Karena Dia Mengubah Segalanya

IMG_0423a

(Photoan bareng untuk pertama kalinya – pake timer)

Semua pasangan (menikah) punya cerita tersendiri perihal awal pertemuan mereka dengan sang istri/suami. Tidak terkecuali dengan saya, yang awalnya tidak berharap lebih dari sekedar teman dengan bang Steph di awal pertemuan dulu.

Rupanya kami jadi menikah. Satu tahun satu bulan saja dari pertemuan pertama itu, kami dijinkan Tuhan menikah. Nggak nyangka memang…

Sekarang, saya cuma bisa ketawa saat ngobrolin lagi sama bang Steph perihal awal pertemuan kami itu. Bang Steph yang ngotot dibales e-mailnya, sempat membuat saya naik darah dan pengen tau apakah kalau di depan mata bakal ngomong seberani yang di e-mail itu juga.

“Kamu belum balas e-mail ku kemarin. Aku sudah check spam tapi nggak ada apa-apa. Kamu tidak punya waktu? Kenapa tidak?”

Saat baca “Warum nicht?” (Kenapa tidak?) nya ini koq ya kaya PR yang harus dikumpulin pake deadline gitu? Saya orangnya tidak suka maksa, karena sudah terbiasa dibesarkan orangtua yang memberikan kebebasan memilih. Dapat e-mail seperti ini, disaat suasana mood tidak bagus pula karena perang dingin dengan si Mr. Jo, makin gampang tersulut lah. Orang sibuk, orang butuh waktu berpikir, dan lain-lain…

Saat itu saya cuma berpikir, “ini orang sengak betul.”

Karena, diantara semua orang yang dekat saat itu, nggak ada yang se-nyebelin cara Bang Steph ngomong… Tapi itu juga yang membuat saya mengiyakan ketemu. Awalnya, saya memang pengen kasi pelajaran sama bang Steph. Haha.

Saat saya terang-terangan perihal ini, dulu pendeta kami malah ikutan ketawa. Apalagi ditimpali ekspresi kaget bang Steph yang pertama kalinya dengarin pengakuan saya ini (bang Steph dengar saat kami konsultasi pra-nikah, ketika pendeta datang ke rumah untuk ngobrol-ngobrol bertiga dengan terbuka).

***

Ceritanya lagi, setelah bang Steph pulang, saya ketemu kemejanya digantung di dekat gorden yang warna nya sama. Aneh! Bagaimana bisa dia kelupaan? Terus, emang itu diganti kapan di situ? Tapi sudahlah. Saya tidak permasalahkan. Pemikiran saya, karena warnanya yang sama, dia nggak lihat.

Saya yang merasa tidak ada tanda-tanda ketertarikan yang lebih diantara kami (dua arah) saat itu, membuat saya berpikir, “males banget pake kemeja tinggal segala, mau diapain coba?” Tapi walaupun demikian, tetap saya tanyakan bagus dan maunya dia gimana.

Dengan gampangnya lagi bang Steph bilang, “bisa antar ke Berlin nggak weekend ini?”

“Apa?”

Benar kan, ini orang memang dari sononya sengak…

Emosi, lagi.

Tapi aturan pemilik kehidupan “untuk berbuat baik”  akhirnya membuat saya mengalah dan mengantarkan barang yang tertinggal itu. Ya, gitu saja. Boro-boro saya suka sama Bang Steph, yang ada tambah gondok koq waktu di-request datang antarin kemeja.

Suatu saat, saat konsultasi pra-nikah itu, saya dengar bang Steph jujur kalau dia sebenarnya suka dari awal kami ketemu, lalu saat datang ke tempatku, dia sengaja tinggalin kemejanya biar ada alasan ketemu lagi. Haha. Asem! Pake suruh-suruh. Saat dia bilang suka, saya sempat ketawa. Nggak percaya lebih tepatnya. Lah, iya, saya nggak ngerasa ada yang lebih dari cara dan bahasa dia. Datar banget, makanya sampe nggak ketebak waktu itu.

Ternyata pria yang tidak romantis dengan kata-kata itu yang membuat saya mengiyakan untuk menikah setahun kemudian. Walau dia bukan perangkai kata, tapi buah dari tindakan dia lebih manis dari hal-hal romantis yang pernah saya pikirkan (saya bukan orang romantis).

Dia memang penuh kejutan. Kadang saya sakit kepala juga dengan ide-ide nya yang malah beneran ngejutin. Haha.

Pagi ini dia kirim pesan, mengingatkan tanggal pertemuan pertama itu dan betapa dia bersyukur kalau hari itu pernah ada beberapa tahun lalu. Koq tiba-tiba bisa romantis? Haha. Ah, beda. Ini cuma ingat tanggal saja. Jangan-jangan, kakak nya atau emak yang ingatin dia.

Tapi satu hal yang pasti, bukan hanya dia yang bersyukur kalau hari itu pernah ada.

***

img_4581a

(Berpose di tempat yang sama, setelah Menikah Catatan Sipil)

“Bagaimana kami bertemu?”

Pertanyaan ini sering ditanyakan kepada saya, atau, kepada kita sama-sama. Kalau kamu orang gereja, jangan malas ke gereja. Kalo kamu muslim, jangan malas ke Mesjid. Kalo ada pertemuan grup, pergilah. Kalo bos atau professor mu minta tolong ke sini atau ke situ, terima dengan senang hati walau nggak ada tambahan bayaran. Dan seterusnya… karena kita tidak tau di mana kita akan bertemu dengan pilihanNya… atau malah dapat proyek baru… eh.

Iya. Terkadang, kita tidak tau bagaimana cara Tuhan mempertemukan dengan orang yang tepat itu. Selain doa-doa, tentunya usaha dimaksimalkan. Saya pernah ketemu dengan orang baik, sangat baik, orang setengah baik dan maap-sekelas bajingan yang terbungkus dalam cover gelar doktor serta punya kedudukan penting di perusahaannya juga pernah. Nyatanya? Dia punya hubungan gelap dengan istri orang, bertahun-tahun. Hmm. Kaget? Iya! Tuhan menggerakkan dia untuk jujur kepada saya. Dan oleh karena kebaikanNya juga, Tuhan menyelamatkan saya dari semua orang yang tidak tepat, salah satu contohnya. Maksudnya lagi, kita bisa salah menilai orang, tapi Tuhan akan melindungi orang-orang yang dikasihiNya.

Pernah ada masa-masa sangat mengecewa dengan orang-orang yang pernah dekat, tapi kini saya hanya punya rasa syukur yang tak putus-putus bahwa Tuhan memampukan saya melewati proses yang tidak mudah itu. Sekarang, setelah fase itu terlewati, saya hanya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Saya bisa menjadi lebih siap.

Ketika orang cuma bisa mencibir karena sudah berumur tapi belum menikah, dibilang pemilih, dibilang ini itu? Tapi saya tetap percaya waktu Tuhan lah yang terbaik. Hitungan waktu manusia perihal keterlambatan untuk menikah itu, akhirnya saya pahami, bahwa tidak ada apa-apa nya dibanding kebahagiaan yang Tuhan kasi lewat pasangan pilihanNya. Indah pada waktu terbaikNya. Itu benar!

Satu hal yang selalu saya bisikin sama mereka yang masih menunggu waktu terbaikNya, jangan berhenti berharap pada Tuhan. Apa yang tidak kita pikirkan, apa yang orang pikirkan tidak pantas untuk kita, bisa disediakanNya. Selama kita membuka diri dan berharap tiada putus padaNya, di sana kita memberi ruang buat Tuhan terus berkarya. Waktu tidak mengubah apa-apa, tapi Tuhan bisa melakukannya.

.

Di tanggal yang sama…

Berlin, 16 Oktober 2017

 

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. denaldd says:

    Betul sekali, jangan pernah berburuk sangka dengan segala ketetapanNya. Berpikir positif bahwa semua akan ada pada saat waktu yang tepat, tidak datang terlalu cepat dan juga tidak terlambat. Tepat pada waktunya. Karena hanya Dia yang mengerti yg terbaik, sedangkan manusia pada taraf berdoa dan berusaha.

  2. shiq4 says:

    Wah bagus sekali tulisannya. Saya suka. Ini mau nangis. Menyentuh sekali. 😀

  3. riatumimomor says:

    Caranya unik banget buat ketemu kamu lagi…walau ya rada ngeselin… kenapa juga mesti adek yg anterin tuh baju ya…. haaaaa… knp gak diambil sendiri? Tapi sudah itulah2 jalan2-Nya untuk ketemu lagi dan lanjut teruuuuuus yaaa hingga tua nanti… Amin

  4. Email ttg apa sih ko bang Steph ngotot minta dibalas? 😀 . Aku sering banget ga bisa balas2 email pembaca blog, krn ga sempat. Pernah ada yg kesel email lagi “apa kamu sibuk banget, tolong liat lagi ada email dariku.. akhirnya kubalas, ujung2nya minta dimasukin link dia ke tulisanku, dan aku diminta jadi penulis tamu tema gardening, pdhl blog dia bhs inggris kan, ga kubalas lagi, krn makin rewel sekali permintaan dipenuhi haha. Bisa aja bang Steph taktiknya ninggalin baju, pdhl kan kau bisa kirim via pos ya Den 😀 .

  5. inlycampbell says:

    Thanks for sharing, Kei.. 🙂

  6. Liza Fathia says:

    Kalo jodoh emang sering seperti itu ya mbak, awalnya pingin berantem aja bawaannya eh ga taunya si doi sengaja cari perkara karena suka sama kita. Wkwkwk. I feel you, mbak. Aku juga pernah dekat dengan cowok lain tapi ternyata dia ga baik untukku. Dan Alhamdulillah, Dia mempertemukanku dengan lelaki yang menjadi suamiku kini. Yang penting positive thinking aja

  7. Terima kasih yach Den untuk sharingnya.

    Rasanya mulai jenuh dengan berbagai komentar orang tentang kapan menikah. Tapi yach mau gimana lagi, mulut orang nga bisa disumpelin satu per satu hikkssss…

  8. elitadame says:

    koq aku jadi ikutan berbunga2 ya kak baca bagian Bang Steph memang sudah suka dari awal pertemuaan… Semoga bahagia terus ya kak Kei dan bang Steph..

  9. Betul, Mbak. Senang bisa mendengar cerita cinta Mbak. Dilanjutkan ya Mbak ceritanya di postingan2 selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s