Ahok: Para Pendukung dan Pembenci

15390858_10202348266824736_5572511217449765916_n

Pak Ahok seusai sidang (Sumber: facebook)

Pagi ini, saat menunggu antrian, iseng buka newsfeed facebook. Scroll, lalu, scroll lagi. Banyak support juga doa-doa kepada Pak Ahok, yang hari ini sidang, dengan tuduhan penistaan agama.

Saya sempat membaca tulisan Bang Suhunan, yang kemudian membuat saya berujung pada permenungan panjang. Mellow lebih tepatnya. Langit Berlin yang juga lagi abu-abu membuat suasanya semakin syahdu.

***

Setelah beberapa waktu ini cukup lelah membaca perdebatan yang pro/kontra Pak Ahok. Hari ini, saya memberikan waktu membaca lebih banyak lagi dari media yang menurut saya terpecaya. Saya hanya mencoba berdiri di tengah, dan, saya melihat satu dari masalah saat ini; kebencian. Kebencian yang menggiring segala kemungkinan untuk menjatuhkan Pak Ahok. Terserah setuju atau tidak, senang atau tidak, politik ini memang penuh dengan intrik, kaki nya menjalar mencoba menguasai kemana-mana seperti kaki gurita.

Saya hanya berharap keadilan ditegakkan. Dan saya, sebagai salah satu pemegang KTP DKI, yang terus menginginkan wajah Jakarta yang lebih baik dan berbenah, berharap, wajah yang mewakili Indonesia ini ada di tangan orang yang tepat.

Buat para pembenci, cobalah sesekali berdiri dari perspektif lain; dimana ada banyak perubahan baik yang terus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Jika meneriakkan kekurangan, jangan lupa, teriakkan juga kelebihan yang pernah ada. Biar adil.

Semoga, yang masih terus memburu kekurangan Pak Ahok, dibukakan hatinya mengingat kembali, kalau saja dalam periode Pak Jokowi lalu dilanjutkan Pak Ahok ada banyak hal baik yang telah dilakukan. Dilakukan dengan kerjakeras. Dan itu sesuatu hal yang pantas diapresiasi.

Saya kurang senang bicara politik, pun, tentang agama. Namun, kali ini bagaimanapun juga, saya bersimpati dengan sidang Pak Ahok yang saya lihat dalam video youtube ini.

***

Kita memang tidak pernah bisa memaksakan orang lain untuk menyukai kita. Kita tidak akan pernah bisa menyakinkan dia puas/senang dengan sikap atau cara kita memperlakukan dia. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Tidak akan pernah bisa. Karena dari sananya, kita memang terlahir dengah hadiah perbedaan itu; perbedaan cara berpikir, karakter serta lingkungan dibesarkan.

Berbeda bukan berarti menumbuhkan kebencian, bukan?

Jika Tuhan saja menciptakan perbedaan itu, untuk kebaikan. Kenapa kita tidak bisa melihatnya menjadi sebuah kebaikan?

Apa yang salah dengan perbedaan?

Tingkat sensitivitas orang memang berbeda-beda. Apa yang menurut seseorang sangat pribadi, buat orang yang lain belum tentu sangat pribadi.

Contohnya, bagi orang Jerman secara umum, mereka akan lebih tertarik membicarakan tentang cuaca dan pengalaman liburan kepada teman bicaranya (saat bertemu), daripada membicarakan tentang politik apalagi agama (ini mewakili lingkungan Jerman yang saya kenal 12 terakhir maksudnya).

Issue politik dan agama jarang diangkat jadi topik karena dua hal ini ibarat “api” yang siap membakar; pertemanan ataupun kebahagiaan.

Kenapa?

Sampai kapanpun perbedaan itu tidak akan pernah disederhanakan. Apalagi disamakan. Saya sendiri, memilih menghindari topik yang tidak bisa diurai. Dengan pemikiran bahwa itu adalah bentuk dari penghargaan saya kepada teman-teman yang berbeda dengan saya, memberi ruang kepada kami untuk menikmati perbedaan.

Apa yang salah dengan berbeda?

Kenapa harus membenci perbedaan jika percaya bahwa Tuhan yang menghadiahinya?

***

Kehidupan berputar. Dan dari masalah ini, kita belajar banyak hal. Mari kita saling menjaga, saling menghormati, menjauhkan kebencian, apapun alasannya. Karena, ada banyak hal yang lebih baik dan mulia dikerjakan. Dan bukankah memilih melakukan kebaikan itu jauh menenangkan hati?

Dan yang pasti, kebaikan ada dimana-mana. Semua orang punya kapasitas untuk berbuat baik. Orang baik akan tetap berbuat baik walau kebaikan yang dilakukan tidak diterima dengan baik. Dan bahkan ketika kebaikan yang dilakukan tidak membuat sekeliling lebih baik, dia tidak akan berhenti berbuat baik.

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. riatumimomor says:

    karena pada akhirnya orang tetap berusaha memaksakan apa yg mereka rasa benar dan memusuhi semua yang berbeda. This is me being cynical.

  2. Setuju.. Karena masih banyak hal yang lebih baik dan mulia dikerjakan daripada hanya berdebat dan adu pendapat mengenai perbedaan dan mana yang salah dan benar.

  3. Hello kak, ini pertama kali aku berkunjung kemare…salam kenal ya kak…
    Sehati kita kak…lelah hayati melihat drama politik di tanah air …sudah makin parah hari demi hari….yang lucunya org2 yg berpendidikan tinggi adalah pendukung2 aksi yang nggak masuk akal..rasisme menjadi jadi..ah sedihlah

  4. Aku juga kadang ga habis pikir ci, gimana ya kalau misal yang benci itu nge vote di US sini dan vote nya kalah (ya know Trump/Hillary). Banyak yang justru Christians disini try to protect the minorities apalagi setelah issue2 gajelas kemarin ini. I guess unity in diversity is slowly fading in Indonesia.

    Mereka bilang minoritas tertekan disini. Nyatanya? Here in the US all types of religion are free to practice their belief and faith without any limitation. Tuh deket apt ku aja ada synagogue, church, mosque, temple, etcetc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s