Hidup Sehat ala Jerman, Menjaga Pola Hidup

IMG_0893a.jpg

(Berlin. Hujan sehabis nonton film dari Potsdamerplatz Berlin)

Hari Minggu kemarin, setelah ibadah utama gereja selesai, Pendeta kami mengajak semua yang hadir untuk berdiri dan mendoakan seorang jemaat yang baru saja berpulang ke rumah Tuhan. Lilin dinyalakan. Semua khusyuk dan bergandengan tangan. Lalu Bapak Pendeta memimpin ibadah khusus buat mendoakan keluarga dan jemaat yang berpulang diumur 86 tahun tersebut.

Orang Jerman dan Pola Hidupnya

Selama tinggal di  Jerman 12 tahun terakhir, sering saya memperhatikan umur jemaat yang berpulang diumumkan di gereja di atas 80-an tahun. Umur memang di tangan Tuhan, namun angka di atas 80 tahun ini sempat menjadi pertanyaan didalam hati saya dalam beberapa kurun waktu, apa yang menjadi rahasia umur hidup orang Jerman bisa sampai rata-rata 80 an tahun? Sementara kalau dipikir-pikir, mereka mengkonsumsi daging dan olahannya, juga makanan-makanan berlemak lainnya cukup tinggi. Belum lagi coklat dan makanan manis lainnya. Bukankah makanan-makanan seperti itu sangat dihindari oleh orang-orang yang sudah menapak diumur diatas 30-an pun mereka yang giat mengikuti program diet tertentu ?

Betul. Hal ini yang membuat saya tertarik mengetahui pola hidup mereka seperti terangkum dalam beberapa poin berikut:

1. Ala Bisa karena Biasa

Pertama sekali datang ke Jerman untuk kuliah program master, 12 tahun lalu, saya sempat sakit di minggu-minggu pertama kedatangan. Pasalnya, kelelahan. Di Jakarta, jarak dekat biasanya naik motor atau ojek, jarak yang lebih jauh naik mobil atau angkutan umum. Saat di Jakarta dulu, belum ada halte pemberhentian bus/angkutan umum yang tetap. Jadi bisa berhenti dimana saja, dan ini cukup memanjakan badan. Apalagi kalau naik motor/ojek, kita bisa berhenti tepat di depan tempat yang di tuju.

Berbeda halnya dengan di Jerman, kalau mau naik kereta, tram (kereta dalam kota) atau bus, kita masih harus jalan kaki ke halte. Beruntung kalau halte pemberhentian tersebut dekat dengan tempat tinggal kita, namun asrama saya saat itu sekitar 1,2 km jauhnya dari halte, mau tidak mau harus membiasakan jalan kaki. Bisa dibayangkan di awal kedatangan ke Jerman memang gempor kakinya, banyak hal yang perlu diurus. Bolak-balik ke kampus, ke kantor imigrasi dan urusan lainnya dimana halte-halte pemberhentian harus dijangkau dengan jalan kaki terlebih dahulu.

Proses membiasakan jalan kaki dan lari-lari mengejar jadwal bus yang selalu datang tepat waktu tersebutlah yang membuat saya sempat sakit seminggu. Namun lama kelamaan saya menjadi terbiasa dengan sistim yang ada, bahkan trekking 7-8 jam pun sekarang bisa saya nikmati. Dimana saat trekking biasanya normal jarak tempuh satu jam adalah 4 kilometer tanpa jeda.

IMG_0861.JPG

(Alpen-Swiss. Trekking bersama teman-teman masa kecil Bang Steph dari Jerman.)

Ya, orang Jerman membiasakan jalan kaki. Bukan saja karena pengaturan halte bus atau kereta yang dibuat seperti yang saya uraikan di atas tapi ini terkait pola hidup sehat. Jadi, sebagai catatan kecil; kalau mau melanjutkan sekolah atau mau jalan-jalan ke Jerman dan umumnya ke Eropa, perlu mempersiapkan fisik yang baik karena akan banyak jalan kaki. Apa saya tidak malu dengan De Laila, anak perempuan teman yang berumur 8 tahun di foto di atas, yang bisa kuat ikut trekking 7 jam di Alpen? Misalnya…

2. Aktif Bergerak

Orang Jerman ditanamkan untuk mencintai alam dan bijak menggunakan musim terkait dengan aktifitas fisik. Tidak hanya jalan kaki dan trekking tapi orang Jerman juga pada umumnya senang naik sepeda. Sebut saja musim semi dan musim panas, mereka yang tempat kerja nya terjangkau dengan sepeda akan lebih memilih naik sepeda ke kantor dan meninggalkan mobil mereka terparkir di garasi. Banyak dari mereka bahkan memasukkan sepedaan dalam jadwal olahraga di akhir pekan.

Kami yang hanya memanfaatkan akhir pekan dan liburan saja, dari musim semi 2016 sampai jelang musim gugur ini, kami sudah naik sepeda hampir 700 kilometer, bisa dibayangkan mereka yang benar-benar suka berpetualang dengan sepeda bisa menempuh ribuan kilometer. Demikian juga mereka yang suka alam akan memanfaatkan musim yang mendukung untuk hiking/trekking berpuluh bahkan ratusan kilometer. Dan yang pasti, ini berlaku untuk semua penggiat olahraga lainnya, kalau musim tidak membatasi untuk tetap aktif bergerak bahkan musim dingin sekalipun.

kolase-sport-1

(Potsdam, Zell am See – Austria, Berlin. Aktifitas fisik berbagai musim.)

colase

(Paris , Sylt dan Spreewald. Naik Sepeda.)

Banyak orang yang saya perhatikan di institute dan juga di tempat saya tinggal, kalau hanya sampai 5 lantai saja mereka memilih naik-turun lewat tangga. Ketika cuaca bagus mereka menyempatkan jalan ke taman seusai pulang kerja, sepedaan, belum lagi sekembalinya ke rumah mereka harus mengerjakan semua pekerjaan di rumah sendiri.

Iya, walaupun punya kedudukan penting di perusahaan, mobil mewah di garasi tapi tetap menyiram tanaman, membereskan cucian, membersihkan rumah dan masak sendiri. Belum lagi kalau punya anak; ya ngantor, ngurus rumah, ngurus anak semua dikerjakan sendiri. Koq bisa? Bisa! Buktinya mereka tetap bisa menikmati hidup.

3. Liburan dan Menikmati Hobi

Orang Jerman sangat senang jalan-jalan atau berlibur. Bahkan ketika asisten professor saya menghabiskan liburan musim panasnya selama dua minggu, dan memutuskan menjelajah Eropa dengan bersepeda sendiri, dia mengaku sering berpapasan dengan orang Jerman. “Rasanya seperti di rumah sendiri, walau sudah tidak sedang berada di Jerman.” begitu dia mengaku.

Hal ini tentu didukung banyak hal termasuk sistim yang ada di negara ini, dimana pekerja dalam satu tahun minimal memiliki libur selama 24 hari kerja. Ada masa bekerja keras, ada masa menikmati liburan begitu kira-kira konsepnya. Karena itu, di sini dituntut bekerja dengan profesional, tidak kenal istilah lembur. Kalau lembur, tidak ada tambahan bayaran.

Selain liburan, orang Jerman menemukan keseimbangan hidup lewat hobi. Orang Jerman pada umumnya tidak senang melakukan sesuatu setengah-setengah. Ketika mereka berminat di satu bidang, akan fokus dibidang tersebut. Demikian juga ketika menjalankan hobi.

IMG_0492 (2).JPG

(Di ketinggian Roros, Norwegia. Berburu moment fotoan di pagi hari ketika gelapnya malam tersamar dan tidak pernah tau kapan tepatnya mampir. Saat itu saya memang tidak melihat ada gelap yang benar-benar saat malam. )

14389766_10210244215844472_1693567150_n

(Pulau Sylt. Delapan jam mengitari area UNESCO dengan sepeda dan coca cola )

4. Hidup Teratur

Selain sistimnya yang sistematis, orang Jerman juga dikenal tidak senang melakukan sesuatu mendadak. Semua harus dipersiapkan. Jangankan liburan tahun depan, hal kecil saja, semisal, kalau mau mengunjungi teman dekat bahkan saudara sendiri, perlu dikabari jauh hari. Manfaat kultur seperti ini membuat hidup lebih teratur dan stress bisa dihindari setidaknya diminimalkan.

d.jpg

(Tembok Berlin. Saat kedatangan tamu dari Colombia yang lagi study di Perancis dan kita mengajak mereka keliling Berlin dengan naik sepeda. Tujuh jam saja kita berkeliling dan mereka mengaku senang tapi juga capek banget…haha)

Keteraturan sistim di Jerman juga termasuk dalam hal kesehatan. Pemerintah mengharuskan semua penduduk untuk memiliki asuransi kesehatan. Iya, salah satu syarat tinggal di negara ini adalah memiliki asuransi. Kita bisa didenda kalau ternyata tidak memiliki asuransi kesehatan. Masuk akal! Karena kesehatan itu penting dan sifatnya tidak bisa ditunda.

Hidup Sehat dengan Pola Hidup yang Seimbang

Dulu, jangankan terpikir menyisihkan waktu untuk olahraga, makanan yang saya konsumsi saja sering tidak mencukupi asupan makanan yang saya butuhkan.

Berada dalam usia produktif, dengan tingkat aktifitas yang tinggi, mau tidak mau saya harus berpikir bagaimana cara menjaga pola hidup agar tetap sehat.

Belajar dari pola hidup orang Jerman dan karakter mereka yang gigih dan konsisten, pada akhirnya, saya melihat hidup yang sehat itu adalah hidup yang seimbang. Dengan memadukan dua kultur dari Indonesia dan Jerman, saya mengartikan hidup sehat itu menjadi; pola hidup yang seimbang dengan membiasakan mengkonsumsi makanan yang sehat, aktif menggerakkan fisik, tetap menyisihkan waktu untuk liburan atau menekuni hobi, bersosialisasi dan utamanya memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan.

1. Pola Makan Sehat

Saya tidak diet jenis makanan tertentu dan syukurnya dari segi kesehatan masih diijinkan mengkonsumsi makanan yang saya suka. Namun sejauh ini, saya berusaha untuk mengikuti pola makan yang cocok dengan tubuh saya. Dan pola makan sehat yang cocok tersebut adalah dengan mengatur porsi makanan dan mengkombinasikan jenisnya. Trend nya disebut food combining atau FC.

Apakah FC itu? Prinsip FC adalah memperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi karena hal itu terkait dengan aktifitas enzim dan pencernaan ketika mengelolanya dalam tubuh. Metode ini juga mengikuti aturan siklus alami tubuh. Jadi, terserah mau menyebutnya diet atau tidak. Yang pasti, tubuh yang sehat itu pada akhirnya berada dalam berat badan ideal.

Menurut FC, kita juga tidak dianjurkan mengkombinasikan protein hewani dan karbohidrat bersama-sama. Penjelasannya masuk akal; karena fungsi enzim amilase ketika mencerna karbohidrat akan dihentikan enzim pepsin yang mencerna protein. Hal ini yang bisa mengakibatkan pH darah menjadi asam lalu diikuti gangguan-gangguan seperti asam lambung, sakit kepala, alergi, bahkan bisa mengakibatkan kinerja liver menjadi berat dan sebagainya.

Pernah merasa gangguan setelah makan? Ya, bisa kebayang enzim kebingungan ketika mengolah kombinasi yang tidak tepat.

img_0029a-collage

(Makanan keseharian saya; daging dan makanan kaya karbohidrat juga ada. Kata FC, yang penting kombinasi nya tepat.)

Pola makan sehat tentu harus didukung bahan makanan yang sehat. Biasanya, saya mengutamakan makanan (sayur, buah, daging, ikan, susu) segar serta makanan yang dimasak sendiri agar bisa dikontrol bahan-bahan yang dimasukkan.

Ya, pola makan yang saya ikuti ini tidak membatasi dalam jumlah, pokoknya boleh sampai kenyang dan puas makanan nya yang penting kombinasinya dan waktunya tepat. Dan yang pasti, pola makan ini juga mengembalikan berat badan saya ke ideal namun tetap bisa makan semua jenis makanan yang saya senangi. Utamanya, saya merasa lebih sehat dan kuat menjalankan aktifitas yang padat seharian.

2. Aktif Menggerakkan Badan dan Olahraga Teratur

Kenapa harus aktif bergerak? Biar kalori terbakar dan sehat. Semua makanan yang masuk ke dalam tubuh mengandung kalori. Untuk mendapatkan kalori yang seimbang dari semua jenis makanan yang diperlukan tubuh, saya sendiri masih mengikuti metode FC saja dan belum ada niat untuk tidak mengkonsumsi jenis makanan tertentu. Masih ingat kan pelajaran Biologi atau Science yang bilang, semakin lama makanan dikunyah, maka penyerapan kalori nya semakin bagus. Hal-hal kecil seperti ini juga perlu diperhatikan.

Untuk membakar kalori dalam tubuh, saya sendiri berusaha untuk aktif bergerak dengan sederet kegiatan yang memang sudah menuntut bergerak. Selain itu, saya juga mengikuti aktifitas yang menyenangkan seperti ikut group tari, yoga dan capoeira. Kegiatan akhir pekan bersama, seringnya Bang Steph dan saya naik sepeda ke pinggir kota minimal 30 kilometer sekali jalan. Dan saat musim dingin kita lebih sering pergi ke fitness center mengikuti kelas tertentu.

img_1602-collage

(Saat menunggu kelas yoga pantai, saat latihan capoeira)

Karena fisik yang sehat tidak jauh dari berat badan yang ideal, bagaimana caranya agar bisa memiliki berat badan ideal? Tidak lain dengan memperhatikan jumlah kalori dari makanan yang dikonsumsi dan dibakar. Keperluan kalori biasanya tergantung umur, berat badan, tinggi, jenis kelamin, gaya hidup dan kondisi kesehatan seseorang. Sementara urusan membakar kalori tentu saja dengan aktif bergerak dan olahraga. Lalu, bagaimana perhitungannya?

Hidup di Jerman, seperti yang saya uraikan di atas, saya menjadi terbiasa jalan kaki dan (akhirnya) senang (sekali) naik sepeda. Yang pasti, saya juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Dengan aktifitas rutin tersebut, saya merasa yakin bahwa sejumlah kalori yang terbakar tiap harinya, hanya menambah beberapa latihan lagi untuk seimbang.

3. Menekuni Hobi atau Berlibur

Bisa kebayang berapa banyak kalori yang terbakar ketika seharian kita menjelajah kota? Pernah terpikir ketika seharian kita jalan kaki mencari objek buat difoto, atau, mungkin kita sendiri senang difoto lalu levitasi atau loncat-loncat seperti saya? Haha. Iya, saya senang foto-foto yang perlu membakar kalori. Jadi, tidak ada salahnya ketika liburan, mengutamakan jalan kaki, santai saja, atau mencoba naik gunung, berburu objek photography yang mantap karena ada manfaat lain kita dapat, mengaktifkan fisik.

berlin-13-06-2010-collage

(Pose loncat dan levitasi yang gagal)

4. Bersosialisasi

Mungkin bersosialisasi tidak begitu tinggi bagi orang Jerman tapi tidak berarti kita tidak menemukan pertemanan yang awet diantara orang Jerman terutama untuk golongan anak muda dan orang tertentu. Ketika mereka terbuka berteman, mereka sangat menjaganya. Seperti dalam foto trekking bersama teman-teman Bang Steph di atas, mereka adalah teman-teman masa kecilnya yang sampai saat ini rutin bertemu walaupun sudah pada menikah dan punya anak.

Iya, dalam hal bersosialisasi terlihat perbedaan kultur Indonesia dan Jerman. Mereka ini, kalau tidak benar-benar kenal atau dekat, jangankan untuk ngobrol, menyapapun belum tentu. Padahal kalau kultur kita, ketemu di bus atau dalam perjalanan saja bisa diajak ngobrol dan kenalan ujung-ujungnya. Haha.

Karena kita suka bersosialisasi, jadi senang ngumpul. Dan menurut saya, ini tidak kalah penting. Terlepas dari kenyataan bawah kita adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan, ada kepuasan bathin ketika bertemu keluarga, teman dan orang terdekat. Hormon yang membuat rasa senang itu penting dan tentu saja sangat bermanfaat bagi kesehatan.

IMG_2224a

(Orang Indonesia ngumpul di wisma kedubes RI Berlin, saat peringatan kemerdekaan RI)

5. Mendekatkan Diri Dengan Tuhan

Karena kita orang beriman, kita percaya, menemukan keseimbangan dalam kehidupan hanya dengan jalan iman. Sadar atau tidak, ketenangan jiwa itu sangat penting untuk bisa maksimal dalam hidup. Pernah melihat orang yang terkena depresi? Stroke? Perlu waktu dan kesabaran memulihkannya, hanya dengan pertolongan Tuhan bisa lebih cepat bangkit.

Saya sendiri, kalau sedang merasa hidup lagi down, selain duduk di gereja mengadu sama Dia, saya juga senang jalan-jalan ke luar rumah. Jalan kaki atau sepedaan. Biasanya, saya pasti menemukan banyak hal yang membuat rasa syukur itu bisa dinaikkan. Saya mengatakan demikian karena pernah melewati masa-masa sulit. Yang pasti, jangan pernah mengisolasi diri sekalipun sedang banyak masalah. Melangkah keluar, cari cara bergerak dari masalah. Di luar sana, kita juga bisa menemukan Tuhan dan jawaban-jawaban yang kita cari. Karena ada banyak cara Tuhan menolong.

13909324_1084384824984611_269232959106645245_o

(Pulau Reichenau. Mampir di gereja bersama Bang Steph.)

Belajar Pola Hidup Sehat dengan Keseimbangan

Jika saja kesehatan jiwa dan raga sudah aman. Bagaimana dengan kesehatan fisik? Kembali lagi tentang berat badan ideal.

Untuk mengetahui berapa kalori yang diperlukan untuk mencapai berat badan ideal, juga berapa kalori yang terbakar melakukan aktifitas tertentu, sebagai gambarannya silahkan mencoba memasukkan parameter yang diminta dalam kalkulator di sini. Saya sendiri memerlukan 1.758 kalori per hari untuk berada dalam berat ideal, contohnya.

Pernah mencatat makanan yang dikonsumsi dalam sehari dan berapa asupan kalorinya? Sesekali tidak salah mencoba.

Kalau punya aplikasi di handphone, bisa juga mencoba diaktifkan applikasi seperti saat kami liburan seminggu di awal September kemarin. Kita mencari tau berapa banyak langkah yang kita lakukan dalam satu hari, lalu berapa kalori yang terbakar. Kalau jumlah kilometernya sedikit, berarti kami memakai mobil atau sepeda. Jadi, menurut screenshot di bawah ini, hari Jumat tanggal 9 September 2016 kami jalan kaki sebanyak 18.125 langkah serta menempuh sejauh 10,88 kilometer. Kalori yang terbakar adalah sebanyak 534 kilo kalori. Kira-kira begitu membacanya. Applikasi perhitungan sejenis ini juga ada untuk sepeda.

kalori.jpg

(Aplikasi menghitung kalori yang terbakar saat liburan seminggu)

Masih takut dengan jenis makanan tertentu? Daging? Karbohidrat? Dan sejumlah kalori dalam makanan tertentu? Selama kita bisa mengatur porsinya, semestinya tidak. Jadi ingat pengalaman pertama berkendaraan jauh sama Bang Steph, dari Berlin ke Austria. Saya ingat, dia menyetok coca cola katanya buat diminum selama perjalanan biar nggak ngantuk. Yang saya tau Bang Steph cukup disiplin dalam hal makan dan olahraga, karena itu saya penasaran dengan alasan tersebut. Yang terpikir adalah minuman bersoda, berkalori tinggi. Namun untuk meyakinkan kalau Bang Steph tidak sedang terjebak dalam kecanduan suatu produk, akhirnya rasa penasaran membawa saya pada halaman ini:

1426522753756

(Perbandingan jumlah kafein dalam minuman)

Ya, sudah. Akhirnya pemikiran saya terjawab. Yang pasti sekarang, perjalanan Berlin-Stuttgart dengan 7 jam naik mobil selalu dibekali cola biar ngantuk. Maksudnya lagi, kalau mau dibilang pelanggan resmi coca cola, kami adalah salah satunya karena memang berguna. Sehat nggak? Saya pikir coca cola itu up-to-date produknya, saat orang menyenangi diet atau yang low calories, mereka juga upgrade produk seperti permintaan pasar.

IMG_0880a.jpg

(Potsdamerplatz, edisi foto jadul, saat pertama kali nonton bareng di bioskop. Kita lebih senang dengan coca cola zero ini.)

Dua minggu lalu, ketika dua gedung apartemen tempat kami tinggal ada acara barbeque, sempat saya melontarkan pertanyaan kepada salah satu petinggi coca cola Berlin yang kebetulan tinggal di gedung kami; bagaimana pendapat beliau tentang ketakutan orang mengkonsumsi minuman berenergi seperti coca cola.

“Semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dengan porsinya tepat, tidak akan menyebabkan masalah.” jawabnya sambil ketawa. “Cocok dengan FC” pikirku.

“Coba lihat daging-daging yang dipanggang itu, kalau saya habiskan semua, dalam satu waktu, tentu tidak bagus untuk kesehatan tubuh saya. Tapi kalau saya ikuti porsi yang tepat, walaupun tiap hari saya konsumsi, semoga tidak akan membawa masalah.” beliau menambahkan.

colase-cola

(Berlin Coca Cola dengan simbol kota Berlin (Beruang)  serta berbagai pose si coca cola merah bersama kami)

Semua perlu takaran yang tepat. Seperti halnya kerja keras perlu diimbangi aktifitas yang menyenangkan serta makanan sehat. Sehingga pada akhirnya, tujuan mengaktifkan badan juga bersinergi dengan upaya mengaktifkan otak. Bukankah didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat? Langkah pertama memaksimalkan hidup adalah lewat tubuh yang sehat. Tentu saja!

Jika saja senang sehat bisa menjadi bagian dari pola hidup masa kini, hidup yang seimbang tidak sulit dicapai. Terkadang, tanpa disadari, ketakutan membuat kita (rela) menjalani hidup dalam tekanan seperti pemikiran tentang makanan yang masuk ke tubuh kita; apakah sehat atau tidak. Ketika teknologi diciptakan untuk mendukung aktivitas manusia, semestinya kita bisa menyesuaikan perkembangan yang ada dengan kebutuhan.

Oh ya, coba perhatikan coca cola edisi bundesliga Jerman yang ada di atas kapal kecil ini, menarik kan? Ini namanya edisi penyesuaian. Edisi khusus ini dibuat untuk menyambut pertandingan liga Jerman musim ini dimana jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tim yang bertanding, sebanyak 18 tim. Saya suka yang Bayern München! Bang Steph suka yang Herta Berlin, kalau kamu?

a1.jpg

(Katanya Bang Steph Capitano Primo dan saya Capitan segundo. Edisi saat nge-trip dengan kapal kecil, sekaligus merayakan dimulainya pertandingan bundesliga dengan coca cola)

IMG_0401a.jpg

(Saat kapal bersandar, menyempatkan selfie dengan coca cola. Walau berat, tapi latar belakang yang cantik; sungai Spree, jembatan dan tv tower Berlin membuat tetap pengen narsis. Tepat di depan saya berdiri, di seberangnya adalah gedung coca cola Berlin dimana kita nompang foto-fotoan seperti di atas.)

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. maureenmoz says:

    benar mbak.. sy juga baru berpola hidup sehat setelah “terpaksa” di awalnya.. ^^ tipsnya sip!

  2. denaldd says:

    Ini postingan disponsorin Coca Cola ya Kei haha banyak kata2 itu soalnya. Ah tosss kita sama2 ber FC! Sudah berapa lama Kei? Aku 8 tahun labih, bedanya aku ga konsumsi unggas dan daging sudah lebih 10 tahun. Ga ada hubungan sama FC dan diet, pilihan pribadi. Tulisannya bagus Kei, foto2nya juga bagus. Baca tulisanmu hampir2 sama dengan gaya hidup orang Belanda. Sejak aku tinggal di Belanda, yg paling mencolok aku rasakan adalah sinusitisku ga pernah kambuh sama sekali (dulu pernah operasi sampai 2 kali). Aku ada alergi sama udara kotor. Karena di sini rajin bersepeda (3 sampai 4 kali seminggu sepedahan ke tempat kerja 25km PP), jadi menghirup udara bersih dan mungkin alergi dan sinusitisku ilang. Ditambah jalan kaki, lari, dan renang (kalau ini sejak di Indonesia) makin merasa sehat karena badan bergerak. Semoga kita selalu sehat ya Kei.

  3. zilko says:

    Setuju! Satu aspek yang kusuka dari hidup di Eropa adalah kulturnya yang cenderung lebih seimbang, Menjaga makan itu penting, tetapi harus diikuti dengan aktivitas fisik pula; plus kondisi mental yang mesti juga baik ya 🙂 . Sekarang ini kalau tidak berolahraga dalam rentang waktu cukup lama (2 atau 3 hari, haha), sudah mulai khawatir sendiri dan “gatal” untuk berolahraga, minimal jalan kaki lah 😛 .

  4. aku suka salut ama ketangguhan orang Eropa dalam hal jalan kaki dan hiking. mungkin karena faktor keterpaksaan dan akhirnya jadi kebiasaan membuat jalan dan hiking itu sesuatu yang kelihatannya enteng. lihat screenshot jalan kaki 6-11 km rasanya lututku sudah lemas duluan nich hehehehe.. kalau dihitung-hitung paling jauh aku jalan 1km aja sudah bete duluan, rasanya bisa lebih 1 km kalau lagi di mall wkwkwk..

    setuju sama uraian diatas, baik itu mengatur aktivitas fisik, pola makanan, mengatur level stress dan hubungan antar manusia dan Tuhan memang semua harus seimbang yach. hidup nga melulu kerjaaaa terus atau makann terus, semua harus seimbang.

    dan sebagai sesama FC, senang ternyata banyak temannya. (ngaku bertahun-tahun FC tapi ttp aja masih sering bolong juga) hehehehe..

  5. inlycampbell says:

    Sama nih kayak Deny, disponsorin Coca Cola ya? hihihi..
    Yes, aku juga suka jalan kaki, tapi Jakarta kurang sesuai untuk jalan kaki dimana2, polusinya makin parah menurut aku, belakangan sering naik ojek, udah pake masker pun tetap kecium baunya knalpot dan asap..

  6. Yg susah fc nya org yahudi ketika ibu2 hamil ya? Katanya gak boleh campur daging sama ikan, ataua apalah. Padahal fc nya mahasiswa nasi, mie karbo to karbo fc nya. Wkwkwkwk

  7. riatumimomor says:

    jalan kaki jauh, jd membiasakan diri buat inget ya apa aja yg perlu dibawa. Gak kyk di sini, ada yg lupa…panggil GOJEK! Krn buat bolak balik itu butuh energy banget… Yg masih susah buat gue itu olahraga… heheheheh. kl weekend itu maunya molor terus… Lg berusaha rutin utk plank tiap pagi… Thx for sharing this ^_^

  8. dyahsynta says:

    Ini yang paling bikin iri dari tinggal di luar negeri: bisa aktif bergerak! Di Jakarta/Bandung sekarang trotoar makin langsing, itu pun masih rebutan sama PKL 😦 Anyway, salam kenal ya Mbak 🙂 Saya suka tulisannya, sangat bermanfaat.

  9. terima kasih sharing dan sarannya mba sangat bermanfaat banget

    1. Sama-sama Mbak, makasih juga sudah menyempatkan mampir ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s