Pacaran Dengan Bule, Kumpul Kebo dan Para Penasehat

IMG_0571a1-COLLAGE

Orang memang beda-beda menyikapi urusan berpacaran dan ikatan sebuah hubungan. Saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman yang pernah saya lewatin ketika bertemu dengan orang-orang yang menurut saya berbeda pemikiran mengenai hal tersebut. Sebelum melabuhkan hati, co cweet banget dah… saya beberapa kali pacaran, sekali dengan orang Indonesia dan selebihnya dengan orang Jerman. Berhubung pacaran juga telat, sudah saat akhir kuliah master 10 tahun lalu di Jerman. Ya. Gitu… pengalamannya juga sedikit.

Entah kenapa seolah menjadi hal biasa; melihat pasangan dengan bule, dan, belum nikah, disangkutpautkan dengan kumpul kebo. Entah kenapa, lagi, kebo jadi biang keladinya, padahal tau tempat tinggal pasangan ini saja enggak, udah ngebo, eh, kumpul kebo saja tuduhannya. Gimana kalau mereka punya tempat tinggal masing-masing? Masih ngebo kah hitungannya? Dibahas. Haha.

Nasehat Jangan Terlalu Memilih

Nggak punya pacar, sibuk nasehati jangan terlalu milih. Beli tomat saja milih, apalagi pasangan, Bro? Yakin, (kamu) dulu tidak milih? Masalah rejeki, jodoh dan mati adalah urusan Tuhan, bersyukurlah kalau proses perjodohanmu dimudahkanNya. Jangan lupa, itu adalah sebentuk anugerah. Dengan anugerah, kita cukup bersyukur dan mendoakan yang lain, Bro. Jadi, jangan membuat dirimu seolah jadi acuan (hidup bahagia) buat orang lain, utamanya yang mencari pasangan, itu menyesatkan yang masih single. Bukankah setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri? Jadi, biarkan setiap orang melewati proses yang sudah ditentukan oleh Dia yang Maha Agung.

Ketika si jomblo naik level punya punya pacar, entah kenapa, level orang semacam ini juga naik. Mereka sibuk menjadi pengawas seolah paling perduli kebahagiaan orang yang diawasi. Seolah paling kuatir terjadi kenapa-kenapa. Lucunya, yang diawasin juga bukan anak SD atau SMP atau bahkan bukan anak kuliahan lagi. Mereka orang dewasa yang sudah diberikan kebebasan menentukan hidup, bahkan HAM sendiri menjaminnya.

Image Negatif Pacaran Dengan Bule

Melihat sering bersama-sama dengan pasangan bule, siap-siaplah digonjang ganjing omongan di belakang. Entah kenapa dipikir bahwa pacaran dengan orang Indonesia akan lebih sehat dan selamat. Dan nggak lucunya lagi, pacaran dengan bule bahkan tak jarang digampangkan dengan urusan sudah tidur bersama. Jadi teringat saya saat dibilang “test drive” yang membingungkan saya dulu. Iya, karena menurut sebagian orang seperti ini, pacaran dengan bule identik dengan tidur bersama. Memang kalau pasangannya sama orang Indo, bisa sehat dan selamat?

Memang sangat disayangkan orang-orang yang melempar pemikiran negatif seperti ini. Dan kalau saya justru menilai kalian yang membuat pemikiran ini lah yang orientasi pemikiran penjajakan pacaran seputar tempat tidur. Kalau enggak, bagaimana bisa terpikir ke sana? Apakah urusan penjajakan kharakter itu lebih berharga dari sekedar urusan tempat tidur? Atau, lagi, apakah tujuan penjajakan kecocokan kharakter itu adalah urusan tempat tidur? Duh, kasihan…

Apakah Pacaran Dengan Bule Bisa Aman?

Tentu saja bisa! Dari pengalaman panjang penjajakan kharakter mencari pasangan, saya melihat mereka kenalan (bule) yang saya kenal cukup sportif. Jadi, pemikiran ini tolak ukurnya pengalaman saya ya…

Saya tidak pernah merasa melebihkan RAS apapun, termasuk memasukkan list untuk punya pasangan bule. Enggak! Karena kalau boleh jujur, saya tidak kurang bahagia juga dengan mantan saya yang Indonesia dulu walau kami sama-sama berjuang di negara ini… haha… (lah, ngomongin mantan). Iya, perjalanan waktu mengantarkan kami pada kondisi tidak bisa bersama, tidak lantas saya lupa telah banyak belajar kebaikan dan cara berpikir yang bagus dari dia. Karena pada intinya, hubungan itu masalah kenyamanan tidak penting dia orang apa. Kalaupun jodohnya memang di sini, itu semua karena Tuhan yang atur.

Jadi, adalah salah besar kalau bilang saya menargetkan pasangan bule, walau ada beberapa poin yang saya senang dari orang Jerman. Termasuk keseriusan mereka, berhubung saya sedikit agak serius jadi cocok dan juga saya juga senang dengan keterbukaan mereka.

Contohnya sebelum memulai hubungan; ketika orang bule tersebut mempertimbangkan perihal urusan tempat tidur,  dia akan mengatakan dengan terbuka di awal perkenalan. Seperti halnya dengan punya anak, mereka akan memberi tahu. Jadi, tidak perlu kuatir, yang penting dibicarakan dengan terbuka di awal. Dan saya pikir, keterbukaan adalah betuk hubungan orang dewasa. Karena pada akhirnya, keterbukaan semacam ini, juga, akan memberi ruang berpikir bagi orang yang sedang menjajaki sebuah hubungan, apakah mundur atau lanjut.

Betul? Iya, sudah sama-sama dewasa, keterbukaan adalah kunci melangkah, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan di kemudian hari.

Bule atau tidak, kharakter orang pembeda utamanya; bukan suku, agama dan ras nya. Jadi, jangan cepat-cepat menilai negatif orang berpacaran dengan siapa. Agama penting, tapi sedihnya, dengan agama saja tidak bisa menjamin bahwa orang-orang penganutnya akan (selalu) berperilaku baik di luar rumah ibadah dan obrolan seputar agama.

Kenapa? Karena kita manusia, yang masih dipengaruhi keduniawian. Kita dipengaruhi banyak hal. Kita cenderung berubah. Tindakan dan perilaku semua kembali pada pola pikir manusia itu sendiri dan bagaimana dia mengambil keputusan untuk dijalani dalam hidup. Karena itu juga, adalah kesalahan besar ketika menyalahkan agama karena perilaku seseorang penganutnya yang menyimpang.

Pergaulan Barat Merusak Anak Muda Indonesia, Betul kah?

Kembali lagi image pacaran dengan bule yang entah kenapa, terkesan bebas dan tidak terkendali itu. Bingung juga kenapa pemikiran ini beredar sedemikian dan dianggap pakem. Memang dibeberapa negara barat pelacuran itu diberi tempat secara terang-terangan. Apakah image itu mewakili? Tidak bisa! Pemerintah memberi tempat seperti itu, tentu sudah dengan banyak pertimbangan. Maaf kata, seolah pesannya seperti ini mungkin kalau dibuat dalam kalimat…, buat lu pada yang punya masalah penyimpangan, silahkan ketemu orang yang sama di sana (di pelacuran). Jangan merusak orang yang ingin hidup benar. Kira-kira seperti itu kasarnya… Jadi, dengan adanya satu sudut kebebasan yang ditawarkan seperti itu, tidak lantas urusan sexual menjadi digampangkan bagi semua penghuni bangsa tersebut, bukan? Tentu, tidak!

Ya, gitu kira-kira. Karena berpakaian mini (atau transparan) atau ciuman dengan “berlebih” di halte atau tempat umum juga (siap) diplototin bahkan dicibir, di Berlin. Ini kota besar, di Jerman, yang disebut-sebut bebas itu. Tapi jangan salah, bebas yang mana dulu? Karena ternyata semua ada aturan. Hanya orang yang berpendidikan ke bawah atau orang mabok, yang akan melakukan hal sesuka hati di tempat umum, begitu pemikiran orang di sini. Jadi, silahkan dipikirkan lagi perihal konteks “bebas” tersebut… yang rusak siapa dan yang dirusak siapa… yang merasa bebas siapa…

Karena itu, kalau dibilang pergaulan Barat sudah merusak anak muda Indonesia. Saya malah jadi berpikir, pergaulan yang mana? Sebenarnya, pelanggaran masalah sexual itu lebih banyak di Indonesia atau di negara bule? Yuk, dipetakan yang baik dan tidak baiknya, biar bisa diambil lebih banyak yang baiknya…

***

Buat yang masih penjajakan, percayalah, pacaran akan mendatangkan kebaikan buat kedua belah pihak; dengan bule ataupun orang Indonesia. Sama. Kalau tidak merasa lebih baik setelah berpacaran dengan seseorang, pikirkan lagi apakah perlu diteruskan atau tidak.

Yang pasti, demikian juga urusan pacaran dengan bule, tidak ada hubungannya dengan tidur bersama. Jadi, jangan pernah takut pacaran dengan bule. Semua kunci nya ada pada kita dan masalah keterbukaan. Terlebih, jangan pernah patah semangat karena pengawas-pengawas yang mengikuti gerak gerikmu pacaran dan penjajakan kharakter pasangan. Iya, kan… apa salahnya pacaran dengan bule?

Advertisements

43 Comments Add yours

  1. imavandam says:

    Setujuh bngt denina 👍 sepertinya org2 indonesia yg beranggapan pacaran dg bule itu selalu dikaitkan dg urusan bobo bareng sih krn mrk tau bule cuma dari filem2 kyk filemnya james bond dll…lha mrk g sadar klo perfileman itu tdk mencerminkan kehidupan sehari2 contohnya juga filem indonesia yg di bintangi jupe dan depe jg menampilkan gaya hidup cewek indo bebas seks…tp kan itu cuma dlm filemnya depe ato jupe kan…

    1. haha… bener banget mbak… jadi kepikir sinetron Indonesia, yang, kita orang Indonesia pun sering kesal nontonnya. emang nonton?
      iya gitu mbak, karena mungkin bagian yang ditonton itulah yang diceritakan dan diketahui, jadinya berabe memang.

      1. imavandam says:

        Yup begitulah 😅

  2. kutubuku says:

    Soal tempat tidur biarlah jadi urusan di kamar tidur masing2. Pribadi, nggak usah dibicarakan sama yang nggak berkepentingan. Entah kenapa orang Indonesia sukanya membahas selangkangan. Denger anak ustadz yang menikah di usia 17 tahun, katanya menghindari zina, lha itu namanya justru dikendalikan oleh nafsu, pikirannya ngeres melulu, pantes gambar candi aja di blur. Ah, sori jadi curcol

    1. Sepakat mbak, hal-hal yang sangat pribadi, biarlah diurus rumah tangga atau pasangan yang bersangkutan.
      Sudah dewasa, segala konsekwensi ditanggung sendiri juga kan yah. Dulu saya tahan telinga, sekarang saatnya ngomong, sesekali harus dikatakan, terserah dengar atau enggak.

      Nah, ini dia masalahnya mbak… kalo urusan di kampung orang, langsung cepat. Ini sampe saya nge search berita ini, sementara sebelumnya ada yang nggak dikasi nikah karena katanya tidak memenuhi syarat, nah ini 17 tahun, minta ampun… ya, begitu lah…

  3. imavandam says:

    Haha curcol 😅 setujuh aku sama komenmu kutubuku 👍

    1. Haha… ikutan juga mbak…

  4. Astri Rahmalia says:

    i feel you den #pengalamanpribadi

    1. Makasih As… sekarang setelah udah disimpul, saatnya ngomong ceritanya. eh, ngomong atau emosi… hehehe

  5. Iya begitu sihh rata-rata langsung judge. padahal mah gak begitu juga kali semuanya.hahahah “test drive”, ngakak.

    1. hahaha… nah, loh… jadi ada bahan lelucon, test drive…
      bener Ito, nggak semua dan itu pasti pake banget itu

      1. Kecuali di puncak ya!! Itupun rata2 arab lhoo yg “katanya yaaaa kawin kontrak”. Aku sihh kurang paham ya!. Tp yg paling dibenahi sihh pikiran org aja soal jalan sama bule. Bule aja ada kok yg takut nembak ceweknya. Hahahaha

      2. hahaha… betul, ada juga ini pengalaman nggak berani. gemetaran duluan padahal jurusan juga phisikologi… nah, bule… juga manusia…

        wah, kawin kontrak? nggak tau saya ito

      3. Ya katanya cuman setengah thn to. #kyk pacaran ya,,, setengah thn doang#. Wkwkwkwk

      4. waduh, gimana itu Ito….

  6. Udah baca tulisan ini sebelumnya di akun K, Mbak. Nambah wawasan tentang pacaran dengan bule. Maklum, saya belum pernah sih, hahahaha… Btw, terverifikasi biru di akun K udah lama ta? Perasaan saya koq baru tau, hehehe 🙂
    Salam hangat dari Bandung yak 🙂

    1. hahaha… makasih dek, sekedar berbagi saja…
      semoga stigma negatif perihal pacaran sama bule itu, sedikit dilihat lagi dari perspektif yang lain

      kaya nya belum lama juga verifikasi biru nya dek, kapan itu ditanya mas admin lengkapin data, lupa…

      salam hangat juga dek.

      1. Wah, keren udah biru… *applause*
        Kapan aku nyusul biru ya? hihihi

        Kalo bule prancis gimana, mbak?
        #ehhh malah dilanjutin
        Hahahaha

      2. ntar juga dikasi sendiri sama Kompasiana dek. Wah, pernah dekat sama bule perancis sekali, tapi nggak lanjut… karena lebih cocok dengan sifat orang Jerman mungkin sayanya dek

  7. riatumimomor says:

    kan nyinyir itu hobi buat orang kurang kerjaan kakaaaaaak… Saya juga suka nyinyir kok; pengakuan. Tapi setelah jadi bodi (jomblo abadi…wekekekekek) di usia uzur gimana saya berusaha agak lebih membuka diri sama kenyataan.
    Iya, kenyataan kalau yg rajin ibadah itu belum tentu diluaran juga bener… Iya, kenyataan kalau yang namanya jodoh ya musti pilih dan sayangnya banyak yg lupa akan proses memilih tersebut. Kenyataan bahwa yang kita lihat belum tentu mencerminkan keadaan yg sebenarnya…
    Jadi lanjutkan apa yang kamu rasa membahagiakan kamu ^_^ Yg mau lanjut nyinyir juga silahkan (loh?)

    1. Hahaha… benar Kak, prinsip saya sudah disebut di barisan paling bawah.
      Karena itu, saya juga sangat menghargai keputusan seseorang dengan hidupnya.
      Orang membuat pilihan itu, bukan dengan gampang dan tanpa pertimbangan, jadi, apapun itu pantas dihargai.

      Masa-masa dinyinyirin sudah lewat Kak setelah posting foto nikah. Walau awalnya nggak ada niat nge-publish tapi untuk membuat banyak pihak senang, saya memilih demikian. Yang masih nyinyir, ya boleh dilanjutkan seperti kata Kak Ria… ahaha

  8. pengen pacaran ma bule jepang. Tapi apa daya wajahku begini

    1. Hahahaa… bule Jepun maunya yang seperti apa rupanya Mas…

  9. winnymarlina says:

    padahal tergantung manusianya ya kan kak

    1. Menurut saya juga begitu Dek

  10. kikyedward says:

    it is like reading everything I ever wanted to say ..keren banget tulisannya mba, so smart

    1. Terimakasih Mbak, curhatan kita rupanya searah…

  11. cuma bisa senyam senyum bacanya hehehehe.. kalau nyari pacar jangan milih-milih, whattt?? bingung aja dengan komentar ini. trus pas tau yang ngomong kisah hidup pernikahannya sudah diujung tanduk masih comment jangan milih2. cuma bisa geleng2 kepala.

    1. Dulu, komentar jangan terlalu milih (masih pake kata terlalu) ini juga sering dilontarkan ke saya say…
      mau marah, mereka nggak tau kesulitan saya perihal perjodohan itu sendiri.
      Dan Puji Tuhan, dalam waktu singkat, cuma kenal 6 bulan dengan Bang Steph, dia serius dan kita menikah. Di penghujung umur angka 3 persis…

  12. Klo mikir ke urusan ranjang krn kebanyakan nonton film2 barat itu 😀 . Pdhl kenyataannya ya gak gitu masah baru ketemu sdh mau di ajak ke ranjang hehe.

    1. Haha… itulah Nel, nggak asyiknya itu dialamatkan buat semua orang yang bersama orang barat…

  13. zilko says:

    Kok hobi banget ngepoin (apalagi sampai ngurusin) hal-hal pribadi orang lain yang juga sudah dewasa ya, hahaha 😆 .

  14. Wakssss gw ngakak beli tomat aja milih apalagi pasangan hahahahaha

  15. Fee says:

    percaya, kalau bule juga ada yg konservatif dan ada juga daerah2 di barat yg memang konservatif… sayangnya gambaran dari media serta film asing barat seringkali menguatkan imej bebas itu, (banyakan bintang film kaukasian)…mungkin itu yg dimaksud imej barat.
    orang amerika sendiri saja ada yg sebel sama gaya dan imej bebas huliwut..

    1. Makasih mbak Fee, ini internetnya nggak ke post ya…

  16. Fee says:

    percaya, kalau bule juga ada yg konservatif dan ada juga daerah2 di barat yg memang konservatif… sayangnya gambaran dari media serta film asing barat seringkali menguatkan imej bebas itu, (banyakan bintang film kaukasian)…mungkin itu yg dimaksud imej barat.
    orang amerika sendiri saja ada yg sebel sama gaya dan imej bebas huliwut..

  17. wasaparisian says:

    percaya, kalau bule juga ada yg konservatif dan ada juga daerah2 di barat yg memang konservatif… sayangnya gambaran dari media serta film asing barat seringkali menguatkan imej bebas itu, (banyakan bintang film kaukasian)…mungkin itu yg dimaksud imej barat.
    orang amerika sendiri saja ada yg sebel sama gaya dan imej bebas huliwut..

    1. Benar mbak, saya juga menemukan ada beberapa yang masih sungguh-sungguh jalanin agama, dan biasanya ini yang nggak ada acara tidur sebelum nikah itu. memang angkanya sangat kecil, tapi ada. yang nggak lucunya, ketika gambaran dari film itu dibawa ke semua orang, termasuk ketika orang-orang yang pacaran dengan bule, lalu mencibir seolah merendahkan. haha… iya mbak, imej huliwut yang ini termasuk yang menyeret pemikiran orang mengeneralisasikan itu…

  18. wasaparisian says:

    waa maaf dihapus aja satu mba,ini ngga tau kenapa sistem lintas WPnya eror…haha jadi kyk spam..*bows*

    1. hahaha… nggak apa-apa mbak, biarin saja.

  19. tattock says:

    barusan mampir. jadi pengin mampir di lain waktu.

    setuju banget pas kutipan ini: Kita cenderung berubah. Tindakan dan perilaku semua kembali pada pola pikir manusia itu sendiri dan bagaimana dia mengambil keputusan untuk dijalani dalam hidup.

    semoga lancar dan dimudahkan acara awal Novembernya ya …

    salam kenal.

  20. ich drück dir die Daumen, mbak…. mengena banget, aku juga setuju sama pemikiran kamu. Semua kembali ke pribadi masing-masing. Kalau di Jerman mah, hal yang nggak mengganggu dan merugikan orang lain (termasuk pacaran dan aktivitsasnya), orang lain nggak bakal ngomong sana sini karena itu kan privacy. Kalau di Indo, weee bisa jadi topik panas di Kuping hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s