Solo Travelling (Wanita) di Eropa, Kenapa Tidak?

12096470_172468893109873_5489490738790832883_n

(Merasakan keindahan dan petualangan seperti di foto ini yang membuatku selalu ingin travelling. Dari Kiri ke kanan, Austria- Czech republic – Norwegia)

“Apa nggak takut kuliah di Dresden?” Itu dulu pertanyaan keluarga dan teman-teman ketika tau aku memutuskan kuliah disalah satu kota di bagian timur Jerman itu. Kuterima pertanyaan kekuatiran tersebut sebagai bentuk perhatian tulus terkait dengan issue yang terdengar bahwa rasis itu cukup tinggi di sana.

Aku tidak ingin membahas hal tersebut, masalah rasis itu ada dimana-mana. Sejauh yang kualami baik-baik saja dan tidak ikut dalam prakteknya, sepertinya hal ini tidak perlu dibesar-besarkan.

Eropa dan Solo Travelling Wanita

Pertanyaan yang sama juga dilontarkan ketika aku ingin melakukan solo travelling, “apa nggak takut jalan sendiri? Apalagi, perempuan gitu…”

Aku tidak mengatakan Eropa lebih aman dari negara lain, tapi sejauh ini aku masih merasa aman travelling sendiri di sini. Ada pengalaman buruk, tapi banyak pengalaman yang baik dan berharga. Travelling solo di Eropa pertama yang kulakukan adalah mengunjungi Barcelona-Pisa-Valencia-Roma dalam satu rangkaian perjalanan. Saat itu, liburan musim panas perkuliahan, aku memutuskan untuk solo travelling.

Bosan dan garing sendiri adalah masalah utama solo travelling. Tapi aku merasa, justru waktu kesendirian itu bisa dipakai menulis atau membaca, me-review kegiatan seharian di saat usai perjalanan sehari. Lalu, teman bicara? Tidak udah kuatir, kita akan menemukan banyak travellers lainnya yang siap diajak bicara. Niat dan ketulusan akan tetap berbicara. Orang-orang sekeliling, bagaimanapun juga, akan terbaca. Dan juga, disitu lah seninya sebuah cerita perjalanan, bukan? Maksudnya, harus bisa tetap menikmati perjalanan walau sendiri, yang penting dipersiapkan. Seru kan, habis travelling dapat kenalan baru?

555db0ea0423bdf37c8b4567

(Wanita Argentina, kenalan baru saat dari bandara Jerman. Kami kemudian berpisah di Barcelona)

Persiapan yang Matang

Seperti ketika kita menjalani kehidupan, ada masa dimana kita juga perlu sendiri dalam memikirkan, memutuskan dan melakukan sesuatu. Karena di sana, kemandirian kita teruji. Travelling solo itu sama. Karena itu, ada baiknya sesekali dilakukan (dicoba). Sekaligus menguji kemandirian, karena sejujurnya, setelahnya, ada banyak hal yang kita dapatkan.

Iya, menurutku, solo travelling itu ibarat sekolah tidak formal dengan banyak jurusan. Kita harus bisa memilih perjalanan yang ekonomis (tiket, penginapan dan biaya perjalanan), kita harus bisa merangkap jadi planner (biaya, waktu dan tempat kunjungan), kita juga harus bisa jadi decision maker (ketika ada hal yang tidak terduga), juga harus pintar berinteraksi (karena ini tidak hanya persoalan bahasa).

Sebelum melakukan perjalanan, hal lain yang aku persiapkan selain memastikan penginapan adalah membeli buku dan map kota yang ingin dikunjungi. Jangan pernah terlihat canggung ketika melakukan perjalanan di kota baru yang kita kunjungi. Melangkah lah seolah kita tau arah yang dituju. Orang-orang yang ingin menggunakan kesempatan, jeli melihat keraguan seperti ini. Ini tidak terkait dengan tawaran-tawaran wisata lokal, tapi, juga orang-orang tertentu yang mungkin ingin berbuat jahat.

Jangan lupa pisahkan passport dan dompet utama. Pisahkan juga uang cash dibeberapa tempat. Pernah saya kehilangan dompet, namun, karena passport saya ditempat lain, saya tidak masalah untuk penerbangan. Walau akhirnya, seorang polisi Spanyol yang bantu saya dengan uang.

Barang-barang yang terlihat mahal, sebaiknya jangan digunakan. Kamera SLR dikeluarkan ketika saat dikeramaian tempat wisata saja. Gunakan tas punggung yang bisa menampung keperluan perjalanan selama menjelajah dalam kota yang dituju. Dengan ransel, kita tidak akan cepat capek, semua barang bisa tersimpan dan tersembunyi. Nah, setelahnya… mari siap-siap berkeliling. Berlagak turis tidak masalah, berlagak bingung itu yang big No!

IMG_2911 (2)

(Map dan perlengkapan di tas ransel-Norwegia)

Pelajari Kultur dan Kondisi Setempat

Melakukan solo travelling wanita, ini sangat penting. Dipelajari baik-baik tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dari kultur setempat. Kalau mau bertanya, pilih-pilih orang. Baca dulu bahasa tubuh orang tersebut. Jangan terkacau karena mereka berdua, justru terkadang mereka melakukan kejahatan dalam grup. Ini saya alami. Selain itu, hal sederhana yang tidak juga boleh diabaikan, contohnya, senyum dan ramah adalah etika yang diajarkan di budaya kita. Ini jangan dibawa-bawa ketika melihat pria Eropa dijalanan, senyum dan menatap mata mereka, bisa diartikan lain, semacam undangan tersirat. Kalau mau cuci mata, boleh juga, tapi pake lah, kacamata hitam. Karena bagian dari travelling itu adalah berinteraksi dengan orang lokalnya, bukan?

Begitu juga tentang letak-letak tempat penting yang ingin dituju, termasuk bandara atau stasiun utama. Sehari sebelumnya ada baiknya di check terlebih dahulu. Setidaknya, rute bus/kereta ke sana dipastikan. Di Barcelona, aku agak kepayahan mencari celah naik transportasi umum ke tempat-tempat wisatanya. Jadi saat itu, memilih tour akhirnya.

Ikuti Insting Ketika Diperhadapkan Dengan Hal Tidak Baik

Menjadi waspada itu adalah emas maksudnya a must! Saat aku ke Valencia, karena menekan biaya, aku memutuskan menginap di sebuah hostel yang ratingnya kurang bagus. Pemikiranku, ah, nompang tidur saja koq. Nyatanya, setelah sampai di sana, aku melihat hostel remang-remang dengan tidak satupun orang yang berkulit kuning langsat dan kulit putihnya lewat. Bukannya rasis, tapi, aku jadi berpikir panjang.

Aku sempat membayarkan 45 Euro, lalu diantarkan ke lantai dua. Namun, setelah beberapa saat di kamar, aku kembali lagi berpikir, lalu turun membawa barang-barangku dan mencari tempat lain. Karena sudah larut, aku tidak menemukan tempat. Namun, kembali ke tempat yang (bayanganku) serupa tempat mafia atau prostitusi gitu (maaf), aku kembali mikir panjang. Bisa-bisa dicincang aku saat tidur. Aku berbalik badan. Kembali ke bandara. Menginap di sana, sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan.

Pengalaman pertama memang selalu jadi pelajaran, dari pengalaman ini, aku lebih hati-hati lagi memilih tempat menginap terutama saat jalan sendiri. Aku memilih mengurangi belanja saja daripada gambling dengan tempat menginap.

Tantangan solo travelling itu memang banyak. Tapi, justru di situ lah letak keunikan melakukan perjalanan sendiri. Karena pada akhirnya, kelebihannya juga banyak termasuk nggak tergantung dengan schedule, mood, dan keinginan orang lain. Dan ya pasti, buat wanita yang ingin solo travelling di Eropa, mau backpacker-an pun mudah-mudahan akan baik-baik saja, yang penting dipersiapan dan hati-hati. Dan pada akhirnya, semoga, akan mendapatkan apa yang ditargetkan dari perjalanan yang direncanakan.

 

Salam hangat.

***

Sebelumnya ditulis di sini.

Advertisements

19 Comments Add yours

  1. kemarin temen kantorku habis dari Norwegia dan aku berharap suatu saat bisa kesana.

    dan sekarang melihat foto diatas duuuh benar-benar ingin kesana

    1. Keren Scandinavia memang mas, kemarin kita ke sana 21 hari dengan mobil caravan tapinya mas…
      lebih puas jalan-jalannya, tapi, lebih capek.

      Nggak rugi ngerencanain ke sana mas, mereka ramah dan negaranya juga ramah dengan fasilitas.

  2. Fee says:

    pernah ngalamin juga traveling seperti diatas…namun saya tidak rekomen solo kecuali darurat…dulu cuma modal nekad saja…
    memang beda rasanya, ada adrenalinnya, dan benar2 harus stay alert…untuk foto2 jg perlu jeli minta fotoin org yg ahli kalau ga berantakan hasilnya hahaha

    1. Setelah nyoba yang pertama, tahun 2007 itu, semester akhir kuliah masternya, malah saya ke sini nya jadi ketagihan mbak. Dan syukurnya, masih diberi kesempatan juga. Ada yang disebut pengalaman pertama memang, dan selalu jadi pelajaran. Dari sana, saya lebih berbenah lagi untuk perjalanan selanjutnya, begitu seterusnya mbak. Tapi orang beda-beda kan yah mbak, ada juga yang tidak menikmati perjalanan sendiri, saya juga memahami pandangan ini.

  3. winnymarlina says:

    aku jalan sendiri gk takut kak takutnya pas uangnya habis aja heheh, tp benar kak salut ama dirimu jalan sendirian begitu, strong 🙂

    1. itu juga bagian dari ketakutan yang lain say, takut habis uang… makasih untuk apresiasinya ya 🙂

  4. nyonyasepatu says:

    Kayknya kalau negara nya aman Insya Allah berani tp kalau bny scam atau pelecehan aku gak bakalan mau deh hehe

    1. Iya betul mbak, poin pelecehan ini penting. Hanya masalah aman, beberapa kali kejadian yang tidak enak juga ada walau di negara yang kita pikir aman…

  5. inlycampbell says:

    selama ini juga selalu solo traveling, walopun di tujuan akhirnya ada temen nya, tapi perjuangan dari titik awal hingga ke titik akhir itu selalu sendirian, jadi yah buat aku termasuk solo traveling, karena kadang transit juga sendirian dan suka explore, baru belakangan ini aja kalo transit selalu ambil yang gak sampe sehari.. kalau jaman dulu di maksimalkan.. lebih banyak tempat lebih bagus hehe..

    1. Iya ya say, pada akhirnya, banyak hal yang kita dapat dengan solo travelling itu, walau ada banyak hal juga yang tidak kita dapat jika kita pergi dengan teman/pasangan. termasuk, ngambil foto dan eksplore lebih leluasa kalo sendiri kan…

      1. inlycampbell says:

        Ohhh aku banyak selfie lho dari jaman suka traveling sendiri, tapi karena dulu belum ada kamera depan di HP, alhasil foto selfie nya mayan deket ke jidat, haha.. mau minta tolong org, dah parno duluan takut dibawa kabur hp nya.. Haha..
        Belakangan lebih seneng foto2 pemandangan aja, yg ada orang nya sesekali aja..

      2. kalo aku tetap nekat bawa tripod say, kadang minta tolong orang, kadang, taro di tripod. tapi kalo minta tolong orang biasanya pake kamera saku. ngeri juga dibawa kabur soalnya… hahaha…

        betul say, makin lama, kita nya males foto…

  6. denaldd says:

    Keren Kei sudah Solo Traveling diluar Indonesia. Aku belum pernah kalau diluar Indonesia. Kalau di Indonesia dulu sering, nebeng bisnis trip kantor haha. Setelah urusan kantor selesai biasanya extend hari trus jalan2 sendiri. Eh pernah sih jalan2 sendiri, tapi seputaran Belanda cari kota yang jauh2 tapi pulang hari haha.

    1. Wah, asik, di Indo justru belum pernah ini Den. Semoga kesampean ntar, pengen soalnya. Kalo dulu dirimu dengan kantor, versi sekarang saya jalan-jalan sendiri itu bisa seperti ikutan konfrensi atau seminar ya… ini boleh hitung solo travelling juga.

      Kalo ada waktu lagi, pengen jalan ke kota lainnya di Jerman saat akhir pekan gitu, pengen tau lebih banyak. Selama ini cukup males geraknya… biar yang model sehari juga kan seru…

  7. ci, samaan kita ya. even though aku juga suka kok group traveling tapi kalo lebih dari 4 orang itu bisa2 mandek di tengah jalan. mungkin karena aku kalo traveling suka explore semuanya (entah museum, pasar, resto, beach, mountain etc) jadi ya shopping bukan prioritas utama. maybe shopping for some knick knacks tapi apa daya, duit lebih rela diabisin buat beli makanan lokal setempat (ketauan kan rahasia chubby nya dimana hahaha). 😛

    beda halnya traveling di india sih ci or bordering countries di west/south asia. secara tau sendiri kan di sana agak2 gimana gitu buat wanita solo traveling, ya maklum aja wanita dianggap gak sejajar sih sama pria jadi ya tingkat kejahatan nya lebih tinggi. mau gak mau harus ada berduaan lah.

    inget banget waktu pertama kali solo trip ke hk/china. bener2 dilatih buat gak depends sama ortu. pandai2 budgeting biar $500 cukup buat seminggu. hahaha. pertama kali nawar barang di china, sampe sales nya ngotot gak mau ngasih ditinggal dipanggil lagi. mana mandarin ku lumayan jeblok cuma hasil belajar di sekolah. 😀

    1. Kita sama kalo urusan itu dek, beberapa kali nyoba jalan sama orang, kurang mantap rasanya. Tapi beberapa kali ketemu juga teman jalan yang asik, nah, kalo gitu masalahnya waktu orang-orang tersebut nggak selalu tepat. Jadi, lama-lama membiasakan travelling sendiri, jalan sama si abang atau keluarga kakak. Udah.

      Enggak dek, kamu bagus koq badannya. Cubby nya dimana? Dan poin nyoba kuliner lokal, itu cc banget. Cc masukin itu dalam paket kunjungan biasanya. Kan, rugi juga dong, jalan tapi nggak nyobain makanan khas daerah tersebut toh…

      Kalo ke India, teman-teman cc yang dari India juga nyaranin gitu dek, berdua lah pergi nya gitu. Nggak dianjurkan solo travelling ke sana. Wah, ke HK sendiri? Mantap banget kamu dek ada acara nawar barang lai. Cc belum pernah kemana-mana, sejauh ini ngandelin inggris saja ke luar dari jerman.

      1. baru liat komen.

        iya soalnya lidah aku flexible sih ci. makan apa aja bisa. kayak waktu trip ke rural south korea (di desa gitu). menu nya ya agak2 aneh buat majority tourists kayak intestines, pork feet lah, daging sapi banyak lemak banjir kuah tapi aku lahap aja makannya. dan gak perlu pake sambel botol. hihi. peserta yang lain pada kagak makan saking gak bisa sesuaiin. harus disambelin dulu itupun sayuran sama nasi doang yang dimakan.

        chubby di pipi ci. paha juga. pahaku termasuk gede. ya begitulah.

        yang di HK mah gampang ci english masih bisa, kalo udah di China nya itu yang agak ribet.

  8. Salut aku sama instingmu di hostel remang2 itu lebih baik kehilangan 45EUR ya. Pernah nonton di Oprah show wanita disarankan untuk mengikuti insting dan nalurinya ketika membaca gejala tidak aman dan merasa ngeri. Waktu itu nara sumbernya kirban kekerasan seksual merasa menyesal tidak mengikuti insting dirinya yang membaca gelagat ngeri dan tidak beres. Duhh itu head foto artikelnya bikin mupeng dijelasin donk kolase 3 foto itu dari kiri itu di Swis ya..trus dmn lagi itu?

    1. Wah, saya baru tau mbak… tapi saya memagn gitu orangnya mbak, ikutin feeling saja karena nggak mau nyesal.
      Itu kolasenya dari Austria-Ceko dan Norwegia mbak… jalan-jalan memang asyik yang penting hati-hati kan mbak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s