Pengalaman Nge-jepret Pernikahan Professor

IMG_0818

(ucapan terimakasih si prof di agenda saya, berikut sebuah foto jepretan saya saat pernikahannya)

***

Apa yang Sakral dari Sebuah Pernikahan?

„Cinta dan komitmen menjaganya sampai maut memisahkan.“

***

Saya turun terburu-buru dari mobil Gaby, supervisor kami, yang meminta saya untuk datang di hari Sabtu sore itu. Cuaca memang tidak begitu cerah. Langit berbalut warna abu-abu saja. Tidak ada langit biru yang katanya salah satu penanda kegembiraan mengiringi hari-hari di musim panas. Namun, Sabtu itu, keriaan tidak sedikitpun meluruh dari wajah-wajah yang berdiri menyambut pengantin di depan kastil tua, di Negara bagian Saxony, bagian timur Jerman. Ya, hari itu adalah hari bahagia Professor kami dan calon suaminya. Kami sedang berdiri di depan kastil tempat mereka akan mengukuhkan pernikahan dengan catatan sipil.

IMG_0273 (2)

(kastil tempat catatan sipil si prof)

Saya sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling. Para tamu pria dengan pakaian resmi setelan jas dan para tamu wanita dengan pakaian yang tidak kalah resmi dan juga meriah. Oke! Tidak mengapa saya dengan Batik saja. Tunggu. Tidak hanya saya saja, Gaby yang katanya jatuh cinta dengan Indonesia itu, pakai Batik juga di pernikahan Profesor kami.

Ssstt… Batiknya Gaby seperti baju tidur loh. Haha. Tapi, diam-diam saja ya, nggak ada yang tau ini lah. Ini kan di Jerman! Yang penting dia tetap percaya diri, dan yang penting lagi jangan diledekin ya! Karena saya sendiri kaget lihat dia tiba-tiba muncul pakai (baju tidur) batik, lalu bilang “Kei, ini bajunya beli di Bali! Cantik, kan?”

“Warna nya cerah!” sahutku singkat.

Senyumnya mengembang. Saya pun tidak sampai hati memberitahu perihal tipikal „baju tidur“ di tanah air, yang tidak jauh beda dengan apa yang dipakainya saat itu.

IMG_0316 (2)

(di depan kastil. benar kan baju Gaby seperti daster?)

 

***

Saya masih bingung untuk ngambil posisi berdiri ketika dua orang wanita berjalan di tengah barisan menuju kastil. „Itu siapa?“ pikirku. „Namun, apapun itu, siapapun itu, artinya dia orang penting dalam acara ini.” Kembali saya berdiskusi dengan diri sembari mengeluarkan kamera cepat-cepat, lalu, memotret mereka dengan cepat-cepat juga. Mungkin karena baru saja sampai, Gaby belum sempat memberi aba-aba.

“Itu siapa?” memastikan sembari berbisik mendekat kepada Gaby.

„Itu Professor Tina!“

„Aw!“ (bengong)

Saya senang telah memutuskan untuk memotret walau tanpa aba-aba. „Untung!“ pikirku, lagi. Namun, juga mikir, mana gaun putihnya si Prof? Apakah ini betulan sudah masuk acara inti? Koq si Prof pakaiannya kaya tamu undangan saja? Lalu, tadi itu, mobil pengantinnya dimana?

***

„Kei akan memotret kalian!” Gaby membawa saya berkenalan dengan si Prof dan calon suaminya, sementara mereka berdua sudah duduk menunggu acara di dalam kastil.

IMG_0086 (2)

(bouquet pengantin, si prof, masih juga nenteng semacam agenda bersamanya…hihi)

Saya tersenyum dan tidak nanya-nanya lagi karena segera acara akan mulai. Walau sejujurnya, saat itu saya grogi berat mikir masalah menyesuaikan “selera” foto seperti apa yang mereka mau, belum lagi saya benar-benar nggak tau rundown acaranya. Nggak ada briefing sama sekali (pusing).

Acara catatan sipil selesai, para undangan diajak menikmati champagne. Pengantin berdiri di depan kastil dan mengucapkan terimakasih. Professor memang tetap lah professor, beberapa kali suami nya salah bertutur, dengan santai si Prof membetulkan tanpa terkesan menjadi guru. Dan, oh ya, di sini, saya sadar menjadi satu-satu nya mahluk lain di sana, maksudnya, yang bukan orang berkulit putih. Sepintas saya berpikir, “professor kami ini rupanya nggak gaul! Undangannya rata saja.”

IMG_0310 (2)

(sisa champagne yang disiapkan)

***

Dari kastil, kita masih perlu perjalanan sekitar 30 menit naik mobil menuju tempat resepsi. Tempatnya di sebuah restoran dengan lokasi di tempat ketinggian, kata si Prof, biar pemandangannya bagus.

IMG_0371 (2).JPG

(dari restoran, ini pemandangannya, akhirnya tersisa juga langit biru di hari itu)

IMG_0320.JPG

(meja dan kursi perayaan)

Iya, dari luar, restoran yang menurutku cukup sederhana itu memang cukup menarik dengan bangunannya yang sudah tua bermaterial separuh kayu. Walaupun restorannya cukup besar, yang diperlukan untuk 50 orang saja. Iya, undangannya 50 orang saja. Si prof hanya menyewa sisi kiri restoran.

Beberapa tamu yang hadir diantaranya adalah Professor, sempat dikenalkan Gaby juga kepada saya. Lalu teman-teman dari suami si Prof yang kebetulan juga Gaby kenal sebelumnya. Oh ya, si Prof dan suami ada dalam area yang sama, sama-sama dari teknik mesin. Hanya, yang satu berkarir di universitas dan satu nya lagi di perusahaan.

10645011_10203530553559372_4659018633378564871_n

(salah satu dari istri prof sedang mengisi buku tamu)

Perayaan berlangsung sampai pagi. Makan, minum, makan dan minum lagi, diselingi oleh tawa dan canda para tamu. Acara berjalan dengan baik dan lancar, mulai dari potong kue, ada hiburan sulap, kembang api, kejutan-kejutan dari para tamu undangan seperti baca kisah pengantin secara random, buka kado yang ternyata alat-alat mesin tapi dibingkai dan dijaiin jam, kue tart dari beton dimana si pengantin pria harus memecahkannya dengan martil, dan masih banyak lagi.

IMG_0865.JPG

(besi apakah ini? eh, iya, biarlah mereka teknik mesin saja yang tau)

1908066_10203530555359417_5018172728929865288_n

(tempat makanan di sisi kiri restoran)

10532374_10203530557239464_6417211245815750030_n

(makanan prasmanan: daging dan sayuran)

10606612_10203530561479570_550521926139246844_n

(roti Brenzel di salah satu sudut)

10622865_10203530543639124_2472555480865469478_n

(makanan hangat beserta nama-namanya)

10635862_10203530539719026_591312190556372732_n

(keju-kejuan dan selai di salah satu sudut)

Menurut saya, acaranya santai dan memang seperti kata si Prof (pengen) lebih kekeluargaan. Kalau mau dibilang, mungkin sedikit di atas dari selamatan anak ulang tahun di Indonesia. Selama acara, si prof berpindah terus dari meja ke meja menyapa tamunya. Begitu juga dengan suaminya.

Ketika si Prof berbincang-bincang dengan saya tentang bagaimana mereka ketemu,  apa yang penting dari sebuah pernikahan, bagaimana konsep pernikahan yang diinginkan, saya makin jatuh hati pada kesederhanaan dia. Walau, terlepas ada juga prinsip yang berseberangan seperti: di grup si prof menari, ada 5 temannya yang sering bersama. Tapi karena dia merasa hanya lebih cocok dengan 3 orang, si prof hanya mengundang yang 3 orang saja. Coba, tega nggak nyakitin orang segitu nya kalau di Indo? Tapi itulah budaya di sini, dilarang sakit hati. Bahkan keluarga dekat pun, kalau merasa tidak menyumbang kebahagiaan alias tidak begitu cocok, ya, tidak diundang.

Iya, dari obrolan kami malam itu, saya pun menjadi berpikir perihal esensi dari sebuah pernikahan yang diikuti perayaan. Saya menarik jauh ke dalam diri, yang selama ini masih berkutat dalam pemikiran konsep perayaan seperti apa untuk nyenangin orang. Saya lebih menimbang-nimbang kebahagiaan khalayak, sementara kebahagiaan saya entah disebelah mana saya letakkan.

Adalah juga betul memikirkan membahagiakan orang lain kalau kita mampu dan kita juga senang melakukannya, namun kalau kita merasa tidak sejahtera, itu yang jadi masalah. Iya, kan? Pernikahan sekali seumur hidup, perlu direncanakan dengan baik, tapi tidak juga berarti kita bersedia menumpahkan semua kemampuan dengan mengabiskan banyak energi terlebih biaya, itu dasar pemikiran saya yang kemudian menjadi bahan diskusi panjang selama ini.

***

Saya melihat resepsi pernikahan si Prof ini semata-mata seperti acara perayaan biasa, yang tidak menghabiskan biaya sampai ratusan juta rupiah. Mungkin menyisihkan sebulan gaji dia saja sudah cukup namun tetap mereka merayakan hari bahagia itu bersama dengan orang terdekat tanpa perlu merasa kurang. Sekaligus, di saat yang sama, saya menjadi paham kenapa si prof tidak merasa begitu penting menyewa seorang fotografer profesional mengabadikan momen bahagia mereka.

Iya, beberapa waktu lalu survey biaya perayaan seperti ini di sini, dan terpikir betapa mahalnya adat yang harus dibayar untuk sebuah pernikahan di tanah air (lagi cari tau di tanah air juga soalnya). Adat pernikahan yang pada akhirnya seolah memberatkan keluarga yang menikah mengeluarkan materi, demi, tidak menjadi malu… atau menyesuaikan dengan standar yang (biasa) ada.

Disisi lain saya melihat, perayaan di tanah air yang cenderung dengan jumlah undangan banyak termasuk karena nggak enak nyakitin hati, pada akhirnya justru sasaran untuk berbagi kebahagiaan agak sulit dicapai. Bagaimana coba pengantin punya waktu ramah tamah dengan tamu 500 orang?

Saya kemudian hanya terpikir, semoga ke depan sebuah pernikahan dan resepsi, pun jika hanya mengukuhkan sebuah ikatan tidak perlu terjebak oleh pemikiran umum tentang npernikahan dan perayaannya. Bukankah yang penting adalah meminta doa dan restu agar dikuatkan untuk menjaga komitmen cinta itu sampai maut memisahkan? Mungkin tidak ada yang salah memangkas sedikit biaya pesta pernikahan kekinian ala Jakarta, mari sebut saja demikian.

 

10653578_10203530548879255_6047409185227606479_n

(suasana malam itu)

***

Terimakasih untuk teman-teman Kampret yang sudah banyak membantu saran ketika nanya-nanya kemarin di grup. Juga buat mas Adjie, mas Bowo dan mas Arif yang sudah membantu editing sebagian foto. Si Prof sangat berterimakasih, maaf saya yang mewakili undangan makan nya seminggu sehabis resepsi ya 🙂

Note: semua foto-foto di atas adalah milik pribadi, saya tidak posting foto acara dan orang karena merasa itu sangat pribadi. Tulisan ini ada di sini sebelumnya.

 

Advertisements

27 Comments Add yours

  1. adhyasahib says:

    acara kawinan disana memang simple ya, waktu nikahan kami dulu suami sampe terkaget-kaget lihat banyaknya tamu undangan yg datang, dia sampe tanya “kamu undang orang satu pulau ini ya?”,ahahaha,, di indonesia kan gak enak hati ya kalo gak undang walaupun keluarga jauh tetap harus di undang, kalo gak di undang nanti di gosipin di bilang sombong,huffft. wah acara pernikahannya di kastil gitu ya mbak, pastunya uniik banget 🙂

    1. Betul mbak, simple dan nggak semahal pesta pernikahan standar di Jakarta. Kemarin survery sampai geleng-geleng saya dengan angka-angka ajib terkait resepsi pernikahan di Jakarta.

      Haha. Betul itu mbak, kakak-kakak saya juga gitu. Ditanya, kamu kenal semua orang itu? haha… gimana mau kenal 800-1000 orang kan mbak? betul udah satu pulau.

      Iya itu masalah nya mbak, nggak diundang nggak enak hati. Diundang juga padahal nyusahin mereka doang datang, kalo makan mah, mereka juga bisa beli lebih mewah tanpa harus buang waktu banyak ke salon, di perjalanan dan seharian datang di pernikahan. Ya gitu mbak, sementara nggak ada waktu juga beramah tamah sama pengantin. boro-boro beramah tamah…

      Nggak ngerti esensi resepsi itu di sana, kepikir juga resepsi ala si prof ini keren. mereka berdua berkeliling meja para undangan, ngobrol.

      1. adhyasahib says:

        iya kan, semua tamu undangan itu belum tentu juga kita kenal, mana sempat ber ramah tamah, yg ada juga cuman salamnan doang, nanti pas di tanya suami itu siapa, saya cuman bisa geleng2,hihihi
        kalo tamunya sedikit kayak nikahan Prof itu kan jadi lebih kekeluargaan, semua tamunya bisa disapa satu persatu jadi lebih berasa di hargai sebagai tamu.

      2. Haha… gimana rasanya coba mbak, pas ditanya, itu siapa tapi bilang nggak tau… haha.. orang sini mana masuk akal, ada orang datang di nikahan tapi nggak kenal, iya kan…. hihihii…

        iya mbak, itu yang sedang saya pikirkan juga. komentar-komentar di sini bagus untuk masukan, nanti saya masih pengen buat tulisan lagi tentang ini. saya tertarik dengan konsep sederhana si prof ini, disamping tidak menghamburkan banyak uang, undangannya berasa dihargai dengan berkeliling meja gitu…

  2. Ria says:

    hiihihi, katanya kalau ortu jaman dulu, bikin pesta artinya berbagi kebahagiaan. Jadi mrk gak mikir mau dpt hadiah apa atau amplop isinya berapa dari tamu. Saya jg lbh suka yg model gini nih. Simple. Hanya org2 terdekat yg diundang. Drpd sok gede2an tapi makanannya gak enak, tamu jg sebel krn pegel berdiriiiii melulu…. (lah, jadi curhat)

    1. Belum lagi capek ke salon, perjalanan macet, kenal juga nggak dekat-dekat amat… nah, gimana coba mbak, kan yang ngundang repotin aja jadinya. Sementara yang diundang, nggak enak hati nggak datang karena pertimbangan tertentu.

      Di poin ini, apa nggak sebaiknya undangan yang datang itu benar-benar dekat? gitu kan mbak?

      Ini yang saya pikirkan mbak. Jujur, agak nggak masuk akal saya sekarang model pesta pernikahan di Jakarta. Bukan karena saya keberatan mengeluarkan dana, enggak, tapi koq makin menyimpang dan makin nggak pada esensi pernikahan itu lagi.

      tujuan bikin pesta untuk berbagi kebahagiaan itu kaya nya udah melorot kemana…

  3. Maya says:

    Hahaha keinget pesta pernikahan aku, “sakit kepala” sesudah pesta tidak hilang dalam waktu 2 tahun.
    Bukan cuma mikirin duit yang terbuang percuma (menurut aku ya) tapi juga pusing ngadepin konflik sesudahnya. Yang merasa gak sreg lah, yang merasa gak diundang lah, yang merasa kurang ini itu lah. Sungguh sampe sekarang aku agak alergi sama pesta2 pernikahan. Kalaupun mau dateng cuma sebatas dateng tok, gak mau ikut jadi panitia atau seksi sibuk. Bahkan kadang cukup angpao nya saja yang datang. No hard feeling juga kan kalo yang diundang 1000 orang, manalah aku ni keliatan kalopun gak datang 😀

    1. Wah, May, ini poin yang aku pikirin juga… karena tidak sedikit teman-teman saya yang mengeluh tentang duit terbuang percuma, konflik, omongan-omongan dibelakang yang akan ada di sana selama hidup karena tidak puas dan tidak undang, dan lain nya seperti ini… apa mesti juga dipaksakan dijalanin model pesta yang seperti ini ke depan? ceritanya, ini kita belajar dari kalian yang duluan, nah, apa salah kalo kita misalnya meringkas yang nggak perlu, kan?

      Sekarang ini pernikahan itu makin ribet aja ya, persiapan pesta yang pake ini itu… kan repotin orang. hihihi…belum lagi biayanya yang luar biasa. ah, koq saya yang sewot…

      1. Maya says:

        Hahaha kalo ngomongin feud nya pernikahan di Indonesia sih gak ada abis2nya deh Nin. Abis suaranya banyak, bahkan keluarga besar yang mukanya jarang kita liat pun bisa ikutan nongol & nimbrung kalo pas lagi kawinan (cuma bikin ribet). Banyakan dari kita mah biasanya setuju dipestain demi membahagiakan ortu. Ortu seneng, pengantinnya yg pusing 😆

      2. Betul banget May, memang nggak akan ada ujungnya kalo ngomongin pernikahan dengan kultur kita yang ada. Itu dia, biasanya orangtua dan orang-orang terdekat akan mendukung rencana pengantin, konsep apa yang mereka mau, nah, urusan keluar ini yang susah ngadepin, gimana nyenangin mereka. Kenapa juga pesta nggak diringkas seperti orang barat ini, nggak buat pusing orang lain, juga nggak buat pusing diri sendiri. hahaha. maunya.

  4. pertiwiyuliana says:

    Entah kenapa rasanya damai betul baca post ini, Mbak. Mungkin, karena Jerman itu negara yang sangat ingin saya jelajahi setelah Indonesia. Jadi, mengetahui sebagian kultur di sana seakan membawa saya semakin dekat. Terima kasih, ya. Memang, tampak sekali beda budaya di sana dan di dalam negeri kita. Kadang, saya pun seringkali berpikir, “Apaan, sih, mau nikahan aja lebay banget!” Tapi, ya, kadar gengsi di sini masih begitu besar. Maunya gak kalah sama teman-teman di lingkaran masing-masing, jadinya rela aja ngabisin uang banyak demi sehari itu. Saya sih gak pengin mewah. Mau yang semacam kayak di atas, tapi konsepnya garden party ehehehe duh lah, lulus kuliah dulu aja saya mah. 🙂

    1. Makasih dek untuk apresiasinya, senang saya kalo tulisan saya memberi informasi/bermanfaat. (boleh panggil adek ya, masih belum lulus kuliah). Dan oh ya, maaf sebelumnya nggak bisa berkunjung ke blog nya, lagi ditutup tampaknya.

      Iya dek, konsep yang kurang lebih sama lah yang ingin saya coba buat… walau, mungkin, akan dikira melawan arus.
      Tapi, saya juga tidak akan mau mengikuti penyimpangan esensi perayaan pernikahan seperti yang menurut saya sudah menjauh itu.

      Sepakat dengan mbak, semakin ke sini, saya melihat cara perayaan pernikahan di jakarta agak lebay.
      Kalo orang yang bisa, saya tidak menentang, tapi kalo pada akhirnya gedung-gedung yang disewakan serta catering dan sebagainya jadi mematok orang yang bisa, kesulitan muncul pada orang-orang yang tidak bisa.

      Selamat belajar ya! Semoga kuliahnya sukses.

  5. Kastil nya cakep banget klasik … apa beda moto profesor ama moto cuman dokterandes hahahaha

    1. wakakak… bedanya sama profesor agak grogi mas, karna dikelilingin professor juga. nah, sama dokterandes nggak gitulah kan sini juga dokterandis… hahaha…

  6. denaldd says:

    Kastilnya cakeepp. Aku tergila2 dengan bangunan2 cakep di Eropa haha. Menyoal pesta pernikahan, mungkin aku agak menyimpang dari pakem orang Indonesia, khususnya Jawa karena aku jawa. Sewaktu kami nikah, aku hanya mengundang 100 orang, 50% diantaranya tetangga2 rumah karena acara sejak ijab kabul sampai resepsi memang diadakan dirumah. 50% lainnya teman dekatku, teman dekat Bapak Ibu dan Saudara2 dekat. Jadi, 100 orang yang datang aku kenal semua, kecuali Bupati Situbondo yang aku ga seberapa kenal soalnya teman dekat Ibu yg aku ga pernah tahu (aku mulai keluar rumah merantau sejak umur 15). Karena diadakan dihalaman rumah, kami bisa menyapa semua tamu, berbincang dengan mereka, beberapa tamu ikutan nyanyi2 dan nari2. Guyub rasanya. Beda 180° dengan perkawinan adikku 1 tahun sebelumnya yg undangannya hampir 1000 orang digedung. Konsep sederhana perkawinan memang impianku sejak umur 20an dan aku ingin diadakan dihalaman rumah dan membiayai sendiri perkawinan.

    1. Iya, bangunan Eropa memang klasik ya Den, selalu terpesona lihat kastil-kastil mereka dan desain nya. Pinter gitu, bangunnya tahun kapan udah mikir jauh gitu desain struktur nya.

      Wah, asik banget bisa jalanin konsep seperti yang diinginkan ya Den… keren! Pengen banget gitu di depan rumah, kan jaman dulu juga di depan rumah pestanya. Ke belakang memang ada yang masalah, karna nggak ada depan rumah. Tapi kalo ada, kenapa harus ke gedung? Kan lebih asik di depan rumah.

      Sepakat memangkas undangan dengan ngundang yang dekat-dekat. Jadi, kan lebih asik gitu, para undangan bisa disapa dan kita juga merasa lebih dekat. Iya Den, disatu sisi saya salut, undangan sekarang-sekarang ini minimal 500 an orang.

  7. mbak koq daster nya blur gitu sich hehehe.. aku juga punya teman orang asing yang make daster batik di kantor hehehe mungkin dia kira semua batik itu bisa dijadikan pakaian formal kali yach. tapi untungnya didia tetap keren walaupun tetap aja namanya daster.

    1. Sengaja di blur say, orang sini nggak suka kita ekspose. Semoga ada bayangan, lupa lagi potret dari belakang waktu itu. haha. yang penting PD ya say, kasihan kalo dibilang2.

  8. Ceritaeka says:

    Duh jadi pengen resepsi lagi 😛 eeeeeh hihihi

    1. haha… ayo! jangan lupa diundang kitanya ya…

  9. Mira says:

    Hai mba, salam kenal
    Ngebaca tulisan ini kayanya nyaman banget ya pesta pernikahannya. cuma kalo di daerah saya, mungkin di Indonesia pada umumnya, bikin pesta nikah yg ngundangnya dikit jd omongan orang2, jd sy jg waktu nikah ngundangnya banyak bener. Kalo temen yg diundang cuma yg deket, tp undangan yg dateng dr temen org tua, keluarga, dll jadi banyak banget. Mungkin udah jd budaya Indonesia ya kalo bikin pesta ngundang orangnya banyak2. Tapi pengennya jg si bikin pesta pernikahan yg lebih private ky prof, nyaman gt keliatannya, sayangnya saya udah nikah

    1. Halo mbak Mira, salam kenal juga ya, makasih untuk mampirnya.
      Dari yang saya lihat, mereka sangat menikmati. Ada acara humornya, ada acara ketawa-ketawanya, banyak lagi yang seperti personal gitu jadinya. Dan ini saya rasa, tidak jauh dari konsep ngundangnya yang dekat-dekat dan jumlahnya tidak besar.

      iya, betul juga mbak. dan kalo di sana, nggak diundang, ntar sakit hati lagi ya…
      hehehe… konsep seperti ini bisa ntar untuk anak mbak, atau saran buat orang terdekat. kalo saya pengen buat yang seperti ini mbak. nggak pengen buat pesta yang datang gitu, makan bentar, pergi. itu nyusahin orang namanya. mereka juga bisa makan lebih enak di restoran kan…

      1. betul mba, kadang kalo dipikir persiapan untuk dateng ke undangan lebih lama daripada ngehadirin undangannya itu sendiri.

      2. itu dia mbak, jadi nggak seru kan yah…

  10. ci, duh hasil fotonya bagussss… udah oke lah buka jasa wedding photography 😉

    speaking of wedding, aku juga nanti bakal kayak si mami. mami pas married juga gak banyak orang, kalo gak salah cuma 150 orang max. dan itupun di hall yang disewain tetangga opa-oma gitu ci. makanan nya jasa dari catering sodara haha. tapi malah lebih enak sih kalo kata mami, semua yang diinvite dateng dan enjoy. bukan tipe yang dateng pesta, makan, langsung bubar jalan gitu.

    apalagi kalau jadi sama si BB nanti, mungkin2 malah lebih sedikit dari 100. kan mahal pesta disini 😀

    oh ya, waktu di pesta, ada yang sibuk sendiri sama gadget gak ci? lama2 holy matrimony jaman sekarang berasa kayak concert ya, everybody are so into their iphones, androids, tablets, etc.. 😦

    1. wakakakak…. makasih dek, belum lah dek. masih super amatiran ini. harus belajar lagi, tapi, sungguh, rasanya menyenangkan memotret.

      wow! udah ada role models nya ya, jarang banget di Jakarta kaya gitu. tapi cc juga nggak mau terpaku dengan kebiasaan umum, cc pengen buat pesta yang jumlahnya nggak besar, biar berasa memiliki pestanya sama-sama. iya, itu yang cc nggak mau juga. nggak apa-apa deh di halaman rumah dibuat tenda biar waktunya lebih fleksibel dan panjang, kan, lebih seru gitu…

      iya dek, kalo disini nya, aku malah rencana 50-60 undangan saja. yang di indo 200 an lah maksimal (karena kami keluarga besar), udah, gitu aja. selama pesta si prof, nggak ada yang pegang hape sih dek, apa mungkin karna dia prof dan yang datang juga para prof, enggak tau dek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s