Sehari di Berlin Bisa Ngunjungin Apa?

Kereta dari Dusseldorf yang mereka tumpangi tiba di stasiun utama (hbf) Berlin pukul 06:53. Masih cukup subuh hitungannya disisa-sisa musim dingin ini. Di luar masih gelap dan juga dingin. Seperti dikabarkan oleh perkiraaan cuaca, kalau Berlin akan turun salju lagi, artinya, udara dingin itu akan terasa lebih lagi. “Semoga cuaca cerah!” itu saja harapan yang saya sisipkan.
Setelah janjian lewat facebook, saya bersiap menuju hbf Berlin. Dipastikan kesibukan kota Berlin sudah mulai terlihat sepagi itu. Kereta yang saya jadwalkan kelewat karena harus beli tiket dulu di mesin, otomatis membuat saya terlewat beberapa menit dari waktu janjian. “Selamat datang di Berlin Ninin dan Santy! Maaf sudah menunggu, ya!”
Perjalanan kereta malam pasti akan melelahkan walau fasilitasnya juga bagus. Kereta tercepat Jerman itu tidak akan salah memberi pelayanan, harus lah, bayarnya juga nggak bisa tawar sedikit pun, kan yah?
12733480_1359863444039705_1684166709191662503_n
(Boleh nodong dari fb Ninin, ini kereta ICE yang mereka tumpangi. Jadi pengen nyoba…)
Kita memutuskan untuk mampir di rumah. Seperti pesan si abang di skype di malam sebelumnya, “kalau mereka ada waktu, lebih baik untuk mampir sebentar untuk sekedar mandi dan sarapan biar segar jalan seharian di Berlin.”
Ninin memang bilang kalau mereka ada janjian dengan sepupu sekitar pukul 10:30 an pagi. Rasanya memang bakal sedikit ngebut ngejalanin rencana tersebut.
***
Setelah memutuskan untuk tidak nitip koper di locker, kita jalan ke rumah. Di saaat yang sama, perjuangan nge geret koper buat mereka pun mulai. Di stasiun kecil di Berlin, tidak semua pakai lift atau elevator, jadi lah seharian kemarin aktivitas paling tidak diduga-duga bagi mereka berdua adalah urusan menggeret koper (sayangnya, lupa ambil fotonya). Kudu bilangin sama pemerintah kota Berlin itu, jangan nyusahin turis. Oh iya, sama wifi juga ya? Iya, oke… oke.
Sementara kita mampir bentar di Kaisers (supermarket) buat beli makanan, Ninin parkir di luar dengan berdingin-dingin jagain koper dan barang-barang. Untung Santy ikutan masuk, karena, rencana saya pengen ngenalin kuliner Jerman kudu di reject saat itu juga karena dia nggak makan yang haram-haram, katanya, karena nggak terbiasa dari kecil. Eh, gimana Nin? Kudu sunatin semua yang berkaki empat itu dulu baru Santy mau makan, ya? Oh!
12744744_1360140657345317_5764426350082154404_n
(seadanya, kita putuskan tidak sarapan roti, tapi langsung makan nasi – ngebajak dari fb Ninin)
12743726_1360141880678528_5241061915580719764_n
(kita bertiga dengan wajah fresh. setelah mereka selesai mandi dan nge pack koper lagi – ngebajak dari fb Ninin)
Sudah hampir tengah hari juga ketika kita bersiap menjelajah Berlin. Mereka perlu mempersiapkan tiket ke Prague malam nya, juga mempersiapkan hotel di sana. Setelah lihat-lihat tempat berangkatnya Berlin ZOB, dimana itu? Saya juga bingung itu dimana, maka tiket ke Dresden malam itu juga saya ambil dari stasiun yang sama, biar sekalian sama-sama.
***
Dua stop saja sudah sampai Alexanderplatz, dan mulailah kita menjelajah Berlin dengan tiket harian Berlin AB di tangan masing-masing. Tiket ini sangat efisien buat mereka yang jalan-jalan di Berlin, dengan harga yang cukup murah, 7 Euro sudah bisa dipakai sampai pukul 03:00 pagi di hari selanjutnya. Dan karena kita kesiangan, saya minta Ninin untuk kontak Riako, sepupunya, untuk mengundur waktu ketemuan, sepakatlah pukul 15:30 di Ostbahnhof (biar dekat tembok Berlin).
IMG_0034a
(duo bornap dengan background Weltuhr dan tv tower Berlin di Alexanderplatz. Weltuhr nya menunjukkan pukul 18:00 di Jakarta)
Dari square nya Alexanderplatz, skip (mall) Alexa nya karena memang nggak niat belanja, kita melanjutkan ke area tv tower Berlin dimana gedung balai kota Berlin, gereja Marienkirche dan patung Neptun bisa dilihat. Kalau punya waktu, dan, dengan pasangan masing-masing, boleh di coba restoran di atas tv tower. Seru lihat view Berlin nya!
IMG_0053a
(Ninin dengan background gereja Marienkirche di area Alexanderplatz)
Di dekat tv tower, dan sepanjang jalan menuju Berliner Dom adalah gudangnya tempat jualan souvenir dengan harga yang cukup oke. Setelah nganterin mereka ke beberapa tempat, saya juga kecantol pengen ikutan belanja. Duh, perempuan nggak bisa lihat harga miring, yak… yak…
IMG_0069a
(nompang berpose dengan tas baru Santy, yang, saya juga naksir berat. Dan, eh, iya, saya nenteng belanja juga. yang turis siapa? kata mereka berdua)
Selanjutnya kita mengarah ke Berliner Dom, gereja protestan terbesar di Jerman, setelah mereka berdua juga foto-foto mengabadikan sungai Spree yang membelah kota Berlin itu, kali ini, sudah dengan belanjaan masing-masing.
IMG_0094a.jpg
(Saat asik-asiknya fotoan, eh, malah ada yang nyelip di antara wajah kita mengimbangin senyum kita bertiga – Berliner Dom)
Dari dekat Berliner Dom, kita tingal mengambil bus nomor 100, bus ini adalah bus wisata kota Berlin dimana akan berhenti di tempat-tempat wisata. Jadi, kalau tau informasi, sebenarnya nggak perlu bayar tiket bus wisata yang jauh lebih mahal itu karena Tiket harian sudah termasuk buat naik bus ini.
IMG_0111
(Brandenburger Tor – pintu utama masuk kota Berlin saat terjadi perang dingin dulu)
IMG_0125a
(di sekitar Holocaust – memorial pembantaian orang Yahudi di Eropa)
IMG_0131a
(sekitar Holocaust)
 IMG_0136a
(ini adalah bekas tembok Berlin yang sudah diruntuhkan, ini persis di tengah jalan, harus hati-hati. kita cepat-cepat nangkringin kaki karna di depan kita persis ada bus berhenti)
IMG_0159a
(bertigaan di depan Reichstag – gedung parlemen Jerman)
Mengingat pukul 15:30 ada janjian dengan Riako, sepupu Ninin, kita segera mencari halte bus nomor 100. Dan ternyata, bersisian saja dengan gedung parlemen, jadi nggak perlu jalan jauh lagi. Kita juga sempat mampir ke toilet di seberang gedung parlemen, sebelum kemudian menuju Ostbahnhof, tempat sisa tembok Berlin terpanjang dan jadi tempat wisata.
IMG_0202a

(nge timer – kita bertiga dengan sisa tembok Berlin)

IMG_0207a.jpg

(warna asli tembok di atas, ini di bagian belakang tembok karna bagian depan sedang renovasi, terlalu banyak coretan, eh! Pemerintah Jerman dan pemerintah kota Berlin mengeluarkan banyak biaya untuk proyek (nge chat ulang) ini)

IMG_0213a

(Dan akhirnya kita pun ketemuan di Ostbahnhof, si ganteng, 3 bornap dan borman ada dalam satu frame foto…)

IMG_0304

(our postcard)

Perjalanan jemput barang kemudian mencari Berlin ZOB adalah babak selanjutnya. Saya benar-benar tidak tau bagaimana ke sana. Sementara saat menungg kereta s5, beberapa menit sempat tertahan di 3 menit, kemudian 4 menit, 3 menit begitu beberapa kali. Penumpang sudah bertumpuk sementara perjalanan kita juga cukup jauh (artinya, harus cepat-cepat cari tempat duduk.

Akhirnya s5 datang juga. Ternyata setelah turun di Westkreuz lalu dilanjutkan dengan naik s41 di arah sebaliknya turun dari s5. Satu halte saja. Nanti di dalam kereta, akan dikasi tau juga tentang informasi bahwa itu adalah Berlin ZOB, jadi nggak usah kuatir. Yang sempat jadi masalah adalah, setelah turun di Berlin ZOB, koq nggak kelihatan itu stasiun bus di sebelah mana. Ternyata kudu naik lagi, untung ada lift, terus jalan ke arah kanan terus sampai perempatan. Di perempatan, belok ke kanan saja, di sebelah hotel itu lah Berlin ZOB. Minta ampun, kita udah deg-deg an tiketnya bakal hangus.

Ternyata, ya, ternyata bus ke Prague, lewat Dresden, jadi kita sama-sama lagi. Ya, begitulah cerita perjalanan kita kemarin! Semoga kunjungan ke Berlin nya menyenangkan ya! Kan, beneran itu let it snow…. let is snow nya… sampe Riako nyelamatin Santy “Merry Christmas!” lagi.

***

Lalu, siapa bilang pertemanan di dumay itu nggak ada gunanya dan belum tentu orangnya apa adanya? Perjalanan singkat kami hari ini adalah bukti dari “connecting” versi dumay, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir adalah refleksi diri dari dunia nyata. Rugi kan kalau kita nggak apa adanya saat di dumay, karena, kita nggak tau kita akan melangkah dan dengan siapa kita akan dipertemukan?

Akhirnya, selamat melanjutkan menjelajah Eropa buat kalian berdua, ya!

Tulisan ini ada di sini juga.

ooOoo

Advertisements

23 Comments Add yours

  1. jonathanbayu says:

    Pengen juga suatu hari ke Berlin, mau liat tembok bersejarah itu 🙂

    1. Amin. Ditunggu mampirnya ya mas…

  2. ohdearria says:

    Berlin looks cold dan a bit empty? Mungkin karna besarnya kotanya ya?

    1. dingin mbak, karna sorenya memang mau salju lagi itu mbak. kalo sepi, saya juga baru ngeh kalo agak sepi… itu betul mbak, ini tergolong sepi dibanding biasanya.

  3. ria says:

    Bener banget ^_^ Jadi apa adanya aja di dumay karena kita gak tau dengan siapa dipertemukan… Waspada sih perlu, tapi setelah saling liat akun medsos selama bertahun-tahun akan jadi sangat menyenangkan banget kalau akhirnya bisa ketemu muka langsung 🙂
    BTW, itu yg cowok photo bomb lucu banget ^_^

    1. Betul mbak, hati-hati tetap perlu. Ada juga teman yang baru tipu saya, tapi kalo dibawa kapok nya, ntar rugi sendiri.
      iya mbak, kalo interaksinya lumayan sering dan bagus, pada akhirnya pasti pengen ketemuan mbak.

      hahaha… kita nggak lihat itu mbak, tau-taunya setelah di rumah ngelihat, dan nggak bisa ulang lagi.

  4. winnymarlina says:

    kalau ke german baru terasa ke eropahnya ya kak

    1. hehehe… makasih say, tergantung orangnya mungkin ya say… kalo saya, berasa eropa nya kalo ke italia karna suka bangunan-bangunan di sana say…

  5. ceritaikha says:

    Jerman keren bangeeeet. Semoga someday bisa kesana. Amiiiin

    1. Amin…. ditunggu mbak.

  6. Ceritaeka says:

    *nabung makin kenceng demi bisa ke siniii* Amiiiin

    1. amin… ditunggu say… ayo jangan lama-lama #kompor

      1. Ceritaeka says:

        *lirik B* hahaha.. Udah punya anak, mesti bagi2 pos keuangan. Hehehe

      2. kan yang dibagi juga makin besar, nggak kerasa lah say…

  7. Puji says:

    Suamiku pasti seneng kalo bisa ngunjungin site itu

  8. BaRTZap says:

    Wah makasih nih, lumayan buat referensi. Soalnya selama ini saya berpikir Berlin gak terlalu menarik. Kalau ke Jerman kepikirannya cuma ke Dresden, Nurnberg, Munich, lalu mampir ke Rotheburg ob der Tauber plus Neuschwanstein aja 😀

    1. Sama-sama mas, makasih juga sudah mampir ya. Pilihan kota itu sebenarnya menyesuaikan dengan ke khas an seperti apa yang kita cari. Kalo mau lihat historical part nya, cocok itu Dresden, Nuremberg, kalo mau lihat dermaga keren ke Hamburg atau Rostock, kalo mau lihat metropolitan ke Berlin, Munich itu kota teknologi nya… wajar Munich cantik karna kota mahal. Banyak yang bagus di Jerman mas, karena mereka menjaga dan merawat apa yang mereka punya.

      1. BaRTZap says:

        Ooo gitu, berarti cocok ya kalau saya suka bangunan klasik dan sejarah milihnya Dresden dan Nuremberg. Semoga bisa kesana suatu saat nanti. Boleh ya kalau nanti minta advice yang lebih detail. Terimakasih sebelumnya 🙂

      2. Siap mas, sebisanya akan dibantu mas. Sama-sama juga mas.

  9. Semoga suatu hari nanti bisa kesini, aku suka arsitektur bangunannya.

    1. Amin! Kalo ke sini, kabari ya mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s