[Potret] Berlin: Perihal Menggantung Sepatu di Pohon

(Contoh sepatu yang tergantung di pohon)

Tidak beberapa jauh melangkah dari rumah, kami melewati sebuah taman yang tidak terlalu besar. Walau juga bersisian dengan pemberhentian bus, tapi nyatanya taman itu penuh. Orang-orang tersebut tampaknya tetap memilih duduk di sana untuk menikmati kehangatan sinar matahari siang itu.

Sementara kami memilih untuk meneruskan jalan kaki beberapa blok, saya menemukan beberapa kali (sepasang) sepatu tergantung di pohon.

“Maksudnya apa, Bang? Apakah itu pekerjaan orang mabuk? Iseng banget!” Menjadi penasaran, aku akhirnya bertanya sama si abang.

“Bisa jadi, tapi, pernah saya tonton di tv, ini ada kaitannya dengan ketidaksetujuan dengan politik yang sedang ada.”

***

Berlin memang tidak seperti tipikal kota Jerman lainnya yang super bersih dan teratur dari ujung ke ujung (mungkin) karena warganya yang multikultur, seperti saya pernah tulis di beberapa coretan sebelumnya di page facebook. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, Berlin justru terlihat menjadi unik dikarenakan warganya yang multikultur tersebut. Berlin terlihat lebih fleksibel dan lebih ramah dengan pendatang. Berlin juga terasa lebih hidup bagi para usia produktif yang masih ingin menambah catatan petualangan dalam berbagai hal, seperti kotanya yang memang terus saja berimprovisasi dengan kultur yang dibawa warganya di Berlin.

Hari Sabtu kemarin, matahari bersinar dengan cerahnya. Langit juga kembali biru setelah beberapa hari sebelumnya hanya membentangkan warnanya yang abu-abu saja. Seperti biasa, mengintip kota Berlin dari satu sudut berpindah ke sudut lain menjadi kegiatan penting di akhir pekan ketika tidak sedang diburu sesuatu hal yang genting. Selalu saja ada hal baru yang bisa saya pelajari, bukan hanya seputar tingkah para turis yang bergantian menarik perhatian, tapi juga perihal cerita yang ada di kota Berlin itu sendiri seperti hal nya urusan menggantung sepasang sepatu di pohon. Jujur, saya baru perhatiin dan kepikir setelah sekian lama di sini.

(Sepatu tergantung di pohon)

Sesampai di rumah, saya mencoba nge-googling tentang menggantung sepatu di pohon yang saya temukan di perjalanan. Katanya, itu “shoe tossing” dan sebagian orang menyebutnya “shoefiti”

Mungkin nama terakhir ini bisa dicocokkan dengan “graffiti” yang kita temukan di tembok-tembok dan bisa dinikmati banyak orang itu. Tapi, apakah kalian menikmati sepatu yang digantung semacam foto di atas? Baiklah!

Masih dalam upaya mencari refrensi, Wikipedia menyebutkan, bahwa tradisi melempar sepasang sepatu ke kabel listrik atau pohon ini banyak di temui di Amerika dan Kanada serta dibeberapa negara lainnya. Entah kapan asal mulanya, entah apa tujuan awalnya, saya belum menemukan. Namun berbagai pendapat menyebutkan, ini semacam bahasa sandi. Bisa berupa hal serius dan bisa juga sekedar “fun”. Seperti disebutkan contoh yang saya kutip: disatu kondisi, menggantung sepasag sepatu ini bisa menandakan seseorang yang telah meninggal, atau ada yang lain lagi, melempar sepatu ketika akan mengawali hidup baru di sebuah kota baru, lalu di belahan Eropa Timur justru memasukkan perihal menggantung sepatu tersebut menjadi perlombaan (olahraga), atau lagi, di budaya Arab yang menganggap melempar sepatu ke orang itu justru penghinaan seperti saat Presiden George W. Bush dilempar sepatu oleh kameramen Irak lalu ditangkap dan dipenjara.

Jadi, boleh juga lah dimasukkan dalam kriteria, perihal menggantung sepatu seperti apa yang diliput tv Jerman tersebut!

Sah-sah saja, kan?

( Lemparnya benar-benar sekuat tenaga ini…)

Kalau baca cerita dibalik menggantung sepatu dari berbagai negara ini, memang unik. Hanya, nggak kepikir saja gimana jadinya kabel listrik atau pohon di tengah kota ketika ada tergantung beberapa pasang sepatu. Apa betul terlihat indah? Berapa lama kabelnya bisa bertahan?

Namun membaca refrensi terkait, sepertinya masyarakat dimana budaya itu ada, pada akhirnya bisa menerimanya menjadi sebuah adat karena tau cerita di balik hal tersebut. Ya, pada akhirnya melihatnya sebagai sesuatu hal yang unik dan indah juga.

Cuma jadi kepikir, mari memelihara ke-khas-an yang kita miliki, termasuk bahasa. Nggak kebayang karena sudah kehilangan bahasa, sampe lempar-lemparan sepatu. Eh! Maksudnya, ternyata bahasa menyampaikan sesuatu itu beragam. Mari melestarikan semua hal positif yang bisa dilestarikan, mungkin itu pesan dari urusan gantung menggantung sepatu ini…

(Orang-orang yang tidak ingin dilempar sepatu, juga sepatunya nggak mau dilempar)

Tulisan ini aslinya ada di sini.

ย Ternyata masuk headline, untuk versi bagusnya lihat di K saja, biasanya diedit kak Admin itu ๐Ÿ™‚

 

Advertisements

34 Comments Add yours

  1. Iya betul di Canada memang banyak seperti itu. Aku pikir cmn org iseng. Tp temenku bilang itu kayak tanda daerah kekuasaan antar geng gitu. Gak tau deh bener ato enggak.

    1. Awalnya saya juga ngira kerjaan orang iseng atau orang mabuk mbak… eh, nggak taunya ada ceritanya…
      bisa saja benar mbak, karena ternyata beda-beda juga mengartikannya ๐Ÿ™‚

  2. chris13jkt says:

    Sempet kepikir juga apa nggak bahaya ya kalau pas angin kencang? Itu orang yang berteduh di bawah pohonnya kan bisa kejatuhan sepatu . .

    1. Betul Pak, jatuh di kepala, berasa banget itu sepasang sepatu..
      belum lagi kalo misal kabel listriknya jadi bermasalah karna kebanyakan sepatu.

  3. Maya says:

    Ada ada aja ya. Aku pas baca judulnya malah dipikir itu tradisi Natal ya, kan kalo disini dibilang kado natal baru dikasih di sepatu/kaos kaki yang diisi rumput. Kirain disana langsung di taro di pohon ๐Ÿ˜€ .
    Ternyata maknanya rupa rupa ya. Kalo disini, mungkin dalam waktu 5 menit bisa langsung hilang sepatunya ๐Ÿ˜€

    1. Haha… mbak Maya, kalo di sana, kita anggurin semalaman sepatu dekat pager pasti akan ada yang mungut mbak… nggak perlu capek dilempar-lempar ya mbak…

      Bukan ternyata mbak, ada saja memang ya…

  4. heywabbit says:

    Wah, kalau aku di sana aku udah pasti gak akan ikutan tradisi itu.. sayang sepatuku hehe :p
    tapi mungkin kalau jadi instalasi seni bagus juga sih, sepatunya bermacam model dan warna di 1 pohon besar *ngebayangin – terus kasian sama pohonnya*

    1. Saya juga kepikir sayang sepatu dan kasihan pohon atau kabel listriknya mbak..
      tapi, mungkin kalau sudah tradisi, jadi fun juga ngelakuinnya… ๐Ÿ™‚

  5. denaldd says:

    Wah baru tahu nih ada kebiasaan begini. Ini masuk tradisi atau hanya kebiasaan saja ya? Kalo di Belanda ada tradisi kalo anak lulusan sekolah setingkat SMA, tas digantung diluar rumah. Jadi kalo ngelihat dirumah ada tas digantung diluar berarti anggota keluarga ada yg baru lulus sekolah.
    Aku baru pertama komen disini, jadi tanya dulu manggilnya apa ya haha. Nina, Deni, atau lengkap Denina?

    1. Menarik ya mbak melihat kultur yang berbeda, di sini kalo ada yang lahiran gitu, mereka jemur baju bayi di luar…
      Makasih mbak, dipanggil Kei atau Denina, silahkan mbak. ๐Ÿ™‚

      1. denaldd says:

        Ah oke, kalau begitu aku panggil Kei aja ya. Mengingatkan pulau cantik di Indonesia. Panggil saja aku Deny, ga perlu pakai mbak hehe.

      2. Sip kalo begitu ya… Terimakasih ya Deny… saya senang panggil mbak/kakak atau mas/abang biar berasa temannya dengan Indonesia… haha… tapi kalau maunya begitu, dengan senang hati.

        Wah, kemarin baru lihat postingan teman tentang Pulau Kei… sekarang diingetin, ngiler banget pengen segera melipir ke sana…

  6. *tes lempar sepatu dulu ya*

    1. ke lewat itu mas, nyasar di genteng tetangga

      1. Hihihihih! Kalau di Jakarta tuh ada budaya keren juga soal lempar lemparan dan nggak cuma di Jakarta sih, di luar Jakarta juga, yaitu lempar kantong kresek isi sampah ke SUNGAI:p

      2. hahahhaa…. betullll itu mas…

  7. adhyasahib says:

    ternyata tradisi gantung sepatu ini di masing2 negara punya artinya sendiri ya, uniik mbak ๐Ÿ™‚

    1. Betul mbak, ternyata nggak sama. Kesamaannya cuma ngegantung sepatu yang sudah diikatkan. ๐Ÿ™‚

  8. zilko says:

    Ah, baru tahu ada tradisi semacam ini, hehehe ๐Ÿ™‚

    1. haha… iya mas, katanya di Belanda juga ada mas…

  9. Itu ngelemparnya bisa tinggi gitu ya mbak ._. kalau diambil boleh nggak mbak? mau tak ambil nih :p

    1. hahaha… ayo ambilin mas, ntar kita cocokin ukuran… kalo enggak ntar dijual ke tempat barang bekas ya…

      1. kkwwkwk waini nih, peluang bisnis kan itu sepatu yang dipohon ๐Ÿ˜€ yuk, kerjasama, aku yang ngambil, kamu yang jual :p wkwkwk *ini apaan wkwkwk

      2. boleh mas, ntar duitnya juga buat saya ya… haha

  10. bersapedahan says:

    wah bisa ditiru sama bangsa kita nih .. kita kan seneng niru2 budaya luar .. lebih keren .. gembok cinta aja sudah ada di beberapa tempat di indonesia .. tinggal nunggu waktunya aja … orang lempar2 sepatu ke pohon ..

    1. mas, katanya di Jogja ada…
      semoga nggak ngikutin yang gini-gini lah mas, masih banyak budaya kita yang bisa digali dan diikuti… haha…
      males banget kalo yang gini-gini dibawa ke sana, gembok-gembokan itu juga, buat apa kan…

  11. baru tau aku mbak soal tradisi seperti ini. kalau disini tuch sepatu bakalan diambil lagi sama tukang sampah, lumayan bisa dijual diloakan hehehe..

    1. iya say, kalo saya lebih setuju diambil tukang sampah, sekalian ada gunanya itu sepatu… hehehe

  12. Christa says:

    Sama kayak temen2 yang lain aku juga baru tau soal tradisi seperti ini, menarik deh ๐Ÿ™‚

    1. makasih mbak Christa, mungkin karna di negara kita nggak ada kali ya mbak… dan semoga nggak ada yang tiru.

  13. winnymarlina says:

    aku kok merasa sayang sepatunya ya kak

    1. mungkin yang dilempar sudah benar-benar butut say…. jadi nggak gitu sayang lagi.

    1. hahaha… itu jelek-jelek mas, nggak usah pusing periksa masih bagus atau enggak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s