Jejak: Cerita Tembok Berlin

12509421_10206778539476990_3036890746174148134_n
Saya memang paling tertarik dengan sejarah, dan, cerita tembok Berlin masih menyisakan cerita panjang yang sampai saat ini saya pun terus penasaran ingin tau lebih banyak. Sehingga, tak jarang ketika ada kesempatan bertemu orang-orang yang hidup di masa itu pasti saya akan sempatkan tanya-tanya seputar kehidupan ketika tembok pemisah itu hadir.
Koordinator (kantor internasional) kami, punya kesan “mencekam” perihal masa perang dingin tersebut. “Saya tinggal di bagian Timur dan sering bermain-main diperbatasan!” katanya. “Tidak takut?” tanyaku balik mengikuti kesan “mencekam” yang dikatakan nya diawal pertanyaan saya. “Iya, tapi saya penasaran! Para penjaga yang berdiri di menara itu selalu teriakin kami agar menjauh dari tembok perbatasan. Ditengah ketakutan dan ketidaktauan dengan apa yang terjadi, saya cuma balik bertanya dengan kalimat yang sama setiap habis diteriakin, “siapa kamu?”, tapi para penjaga itu tidak pernah ada yang jawab pertanyaan saya.”
Berbeda dengan keluarga teman dekat saya yang dulunya tinggal di dalam kota Berlin, dalam arti, jauh dari tembok itu berdiri. Mereka ada di dalam kota yang saat itu masuk dalam bagian Barat. Ketika saya bertanya kesan bapak-ibu itu perihal kondisi kehidupan dengan hadirnya tembok tersebut, ibu itu mengatakan, “kita memang dengar dari tv, tapi aktivitas semua berjalan seperti biasa dan sejujurnya tidak begitu terasa geliat ketakutan seperti digariskan sejarah.”
Kondisinya beda lagi ketika saya bertanya kepada Hausmaister (pengelola gedung) international guest house kami, yang dulu banyak membantu kedatangan saya di Jerman. Perihal satu ini, mantan polisi ketika masa perang dingin itu pada awalnya enggan bercerita. Bahkan, beliau yang begitu baik menemani saya mengenal kota pertama saya di Jerman, sampai urusan membuka bank dan keperluan saat kedatangan, tiba-tiba berubah sensitif ketika saya bertanya tentang cerita tembok Berlin. Beliau balik bertanya dengan sedikit nada menaik dan kurang enak, “kenapa kamu pengen tau banget?”
Untuk mengindari kesalahpahaman, saya berpikir keras mencari alasan, yang semoga tidak menyinggung perasaannya. Karena saya tau banyak juga orang jerman yang enggan membicarakan masa lalu apalagi ketika mencoba cari tau era Nazi. Kalo tidak kenal betul dengan orang nya, jangan pernah tanya. Begitu kesan saya masuk di lingkungan mereka 11 tahun terakhir. Disatu sisi saya memandang ini sebagai kharakter yang tidak mau hidup di masa lalu. Memang bisa terlihat cepatnya mereka bergerak setelah penyatuan Jerman (tembok Berlin diruntuhkan). Saat ini Jerman masih memang peranan penting untuk EU sekaligus menjadi negara terkuat perekonomiannya.
Kembali lagi ke si bapak hausmaister, kadung sempat bertanya akhirnya saya menjawab beliau, “kalau bapak tidak ingin bercerita, tidak apa-apa, dulu saya belajar di sekolah dan sekarang tertarik ingin tau lebih banyak dari orang-orang yang pernah hidup di masa itu. Saya hanya membayangkan, betapa bahagianya kalau bapak saya bisa dengar cerita ini langsung.” Dan beliau pun bilang, “saya memang ingin melupakan cerita masa itu karena saya kehilangan istri dan anak saya. Sampai hari ini saya tidak tau kabar beritanya.” Saya terdiam. Tidak tau apa yang harus saya tanyakan lagi. Takut memulai pertanyaan baru, yang sebenarnya masih banyak di kepala. Pensiun dari polisi beliau bekerja di guest house sampai saat ini. Bapak itu memilih tidak menikah lagi dan sampai saat ini menyibukkan diri dengan membantu orang-orang internasional yang datang disini.
Dua tahun lalu, saat musim panas, saya berkesempatan ikut tour sepeda dari grup peneliti kampus, menyusuri jejak tembok Berlin. Maksudnya, bukan melihat bagian yang utuh, disekitar ostbahnhof saja (ada dipostingan saya sebelum ini). Iya, dari tour sepeda tersebut saya pertama kalinya melihat salah satu tempat yang cukup penting di Berlin ketika masih terjadi perang dingin. Dari cerita tour guide, dengan foto-foto yang ditunjukkan ke kita, baru tau kalau dulu, tepat di besi-besi yang terlihat berkarat itu adalah perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat. Di sana ada bangunan gedung rumah tinggal dimana kalo kita mengintip dari jendela dan mengeluarkan kepala, kita sudah berada di Jerman barat (jalan tersebut adalah wilayah Jerman barat). Banyak yang kabur ke Jerman Barat lewat jendela rumah-rumah tersebut (seram kalau lihat foto-fotonya), karena itu, banyak penembakan terjadi di tempat ini. Sekarang, bangunan itu sudah dirubuhkan tapi di seberang jalan dibangun buat tempat tinggal (seperti di gambar pertama).
10423857_732056536884110_2672822593148590226_n
(gambar pertama)
Setelah itu kita bersepeda melihat sisa asli tembok, yang dibiarkan tanpa di cat. Di area ostbahnhof, sisa tembok belin sudah dipenuhi dengan graffitti. Gambar kedua ini adalah sisa tembok Berlin asli, yang kami telusuri dengan tour sepeda tersebut. Aslinya tembok Berlin memang warna abu-abu. Ya, katanya warna Komunis memang hanya tiga, abu-abu tua, abu-abu muda dan abu-abu. hahaha. Itu kata tour guide kita yang sedikit rada-rada kocak. Lokasi ini cukup serius, karena dikelilingi kuburan saja dan sebuah lonceng besar yang ditempatkan di tengah area tersebut. Konon, tempat ini adalah kuburan pembesar Jerman pada masa itu.
10405339_733692496720514_4656833583947024674_n
(gambar kedua)
Setelah berkeliling lewat setengah Berlin (rasanya), karena capek. Akhirnya, kita juga mampir di tempat yang membawa khayalan saya mendarat di masa kesusahan itu. Sedang membayangkan, bagaimana pasangan kekasih, suami-istri, kakak-adik, orangtua-anak, ketika dipisahkan oleh tembok (Berlin) ini. Foto ketiga adalah jepretan celah tembok Berlin yang saya bayangkan menjadi tempat penting untuk mencari kesempatan mengintip orang yang dicari, dikasihi, dan berharap lewat di masa itu, entahlah. Mungkin kalo kondisinya jauh dari menara pengintai, bisa.
10702105_734471176642646_3284003934882888299_n
(gambar ketiga)
Ini hanya sekelumit cerita tembok Berlin lain yang berkaitan erat dengan menara pengintai yang saya kunjungi minggu lalu. Sekiranya cerita tersebut semestinya adalah cerita personal yang mesti saya abadikan sendiri, kiranya bisa melihat sisi positif dari berbagi cerita ini. Ini ditambahin bonus lagi, foto bekas tembok Berlin di dekat Brandenburger Tor tapi sudah diratakan dengan jalan. Orang tidak akan ngeh ini apa, kecuali baca rekam jejak tembok Berlin.
12410525_10206778526356662_5114638583903975457_n
(ceritanya, kaki saya satu di berlin barat dan satu lagi di berlin timur…hahaha)
12510505_10206778534516866_257361432892783420_n
Advertisements

17 Comments Add yours

  1. winnymarlina says:

    kalau disana dinding digambarin bagus2 ya kak

    1. betul mbak, saya senang lihat sepanjang temboknya. nggak salah pemerintah kota berlin mengadakan sayembara dulu untuk dipilih siapa yang akan buat grafitti nya mbak.

    2. sepakat lah kita kalo gitu mbak

  2. Sisa2 keruntuhan kekejaman dulu masih tersimpan rapi yaaa

    1. betul mas, masih apik sisa temboknya.

  3. puputs says:

    sedih denger bapak itu cerita gitu, pantesan nadanya naik sewaktu di tanya

    1. betul mbak, saya jadi merasa bersalah juga meniatkan diri bertanya setelah tau apa yang terjadi.

  4. kutukamus says:

    Bisa sebagai reminder tentang masih banyaknya ‘invisible walls’ bertebaran di sekitar kita ya (PS: di gambar pertama, itu panel tenaga surya ya? wah kalau di Indonesia banyak yang begini, ngirit kita) 🙂

    1. Betul mas atau mbak? Dan justru, invisible walls itu yang ternyata lebih sulit diruntuhkan. Makasih mas/mbak untuk mampirnya ya, iya mas/mbak, itu tenaga surya. Waktu itu sedang digalakkan juga penggunaannya, dan, bahkan pemerintah membantu biaya bagi siapa yang mau pasang di rumahnya.

      1. kutukamus says:

        Ok, terima kasih info dan kunjungan baliknya. Oya, kalau ada waktu boleh cek artikel ‘nuansa’, lalu silakan, mau panggil Mas atau Paman Kutu 🙂 Salam.

      2. Siap! Segera meluncur!

  5. Liza Fathia says:

    Suamiku juga bercerita hal yang sama ttg tembok berlin mbak, teman2nya memilih diam ketika dia bertanya ttg tembok itu.

    1. iya mbak, mereka memang kurang senang ngomongin dua hal itu. kitanya juga jadi nggak enak nanya.

  6. Gubuk Geokku says:

    Sama mbak denina …Aku juga suka Wisata Sejarah. .. salam Wisata Sejarah, Mbak!

    1. Terimakasih mbak, biar berasa kembali kaya ngulang waktu sekolahan mbak. sekalian ingat. hehehe… salam mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s