Melirik Kota Stuttgart Sejenak

Minggu lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah perhelatan konstruksi di Stuttgart. Perusahaan yang menangani proyek pembuatan tunnel beserta perusahaan kereta api Jerman bekerja sama mengadakan sebuah acara, yang juga merangkap ramah tamah. Ribuan hadir dari berbagai kota di Jerman. Dan yang pasti, lumayan lah memberi jalan buat saya ke Stuttgart lagi. Kalau menghadiri acara-acara resmi seperti itu, kan bisa sekalian jalan-jalan. *Tetap.

Setelah acara inti selesai, Jumat sore, saatnya memanjangkan langkah seperti direncanakan sebelumnya yaitu jalan-jalan disekitar Stuttgart. Memasuki musim dingin, pukul empat sore saja sudah mulai terlihat gelap. Ini yang membuat malas jalan sebenarnya. Apalagi kalau harus berjuang melawan dingin. Syukurnya, November tahun ini, suhu udara lebih ramah. Lebih hangat dibanding biasanya. Apa yang menarik dari kota ini? Stuttgart adalah ibukota negara bagian Baden-Württemberg, yang terletak di bagian selatan Jerman. Jika Munich kita kenal dengan BMW nya, maka, Stuttgart dikenal dengan Mercedes-Benz and Porsche nya (kunjungan museum, lain kali akan saya tulis lagi).

Stuttgart berada diposisi ke empat dengan penduduk paling banyak di Jerman. Karena itu, tidak bisa dipungkiri saat akhir pekan kemarin, kita bukannya sibuk melihat gedung-gedung Eropa yang berjejer menjadi pertokoan tapi mencari celah lewat.  Hal seperti ini tentu saja tidak menguntungkan buat ngangkat kamera. Ya, jepretan saya memang gak ada yang sukses.

[Sudut lain Kota Stuttgart]

Malam itu, kami menghabiskan waktu di sebuah restoran dengan ritual makan malam yang cukup lama. Diskusi berlanjut di meja makan, ini bukan kali pertama saya melihat orang-orang seperti itu. Bahkan, pernah saat kami merayakan Natal, satu karyawan si Prof datang membawa segulungan kertas gambar dan menanyakan detil sambungan (gedung) proyek dia. Memang, dari sekitar 50 an yang ada di situ, semua serentak menoleh ke arah dia. Tapi, maksudnya, ada saja yang tidak bisa tidur nyenyak kalau waktu makan, juga, tidak digunakan untuk bekerja atau setidaknya berpikir untuk kerjaan (nyinyir nih).

[Cantiknya lokasi restoran dengan bangunan khas Jerman]

Sedikit berbeda dengan kota-kota lainnya di Jerman, di Stuttgart kita akan menemui banyak pegunungan dan lembahnya. Tidak berapa lama keluar dari pusat kota, akan terlihat banyak perkebunan anggur di kaki pegunungannya. Setiap kota memang menawarkan keindahan nya tersendiri, begitu juga Stuttgart. Kota yang masuk jajaran kota kaya di Jerman ini juga menawarkan alam yang cantik, museum-museum yang ciamik dan kultur menarik. Dan yang pasti, seperti kota-kota di selatan ini memang dikenal dengan penduduknya yang ramah.

Sabtu pagi, adalah acara bebas. Pagi harinya, kami mengunjungi sebuah museum arsitektur modern yang dibangun tahun 1927. Kalau dibayangkan saat itu kondisi kampung ompung ku, belum ada pakaian mungkin. Ah, mari kita sebut saja belum kenal setelan jas karena ilmuan-ilmuan masa itu kan biasanya pakai jas. Ompungku doli (yang laki-laki) lahir tahun 1901, jadi sudah berumur 26 tahun saat itu. Di dunia lain dari Toba (tempat ompungku tinggal), inilah hasil karya Le Corbusier dan Pierre Jeanneret itu, sangat mengagumkan buat saya. 5 konsep arsitektur modern oleh Le Corbusier diterapkan dalam membangun rumah ini. Pembagian ruangan memang sederhana dan berukuran kecil, tapi, konsepnya luar biasa. Termasuk ketika mereka mendesain ruang terbuka di atas dan ditanami tanaman.

[Bangunan modern di masanya (1927) dan yang kini jadi museum]

.

[Ini koq nggak bisa diputar ya? Tapi ini adalah salah satu contoh ruang tidur tamu di masa itu]

[Dapur dan ruang diselahnya adalah bath-up]

Selesai dari Museum arsitektur modern itu, kami beranjak menuju “Killesberg tower” dimana kita bisa melihat kota Stuttgart dari ketinggian. Tidak jauh dari museum tersebut, kami sudah menemukan taman yang luas dimana menara sudah terlihat. Bahkan ada bir garten (tempat minum bir) dan juga tempat bermain anak-anak. Kami sempat kecarian tempat “kassa” pembayaran yang ditunjuk oleh anak panah dekat menara tersebut. Ternyata, memang tidak ada kassa seperti yang saya bayangkan (ditunggui), kassa yang dimaksud adalah tempat kita menaruh uang sebelum naik ke menara. Memang tidak mahal, cuma 50 cent tiap orang, tapi kesadaran orang untuk rela membayar diperlukan tentunya.

 [Pegunungan dan pohon-pohon anggur dikakinya, dilihat dari Killesberg tower]

Hari Minggu pagi, kita juga mengunjungi kastil di atas bukit tertinggi di Suttgart. Niatannya, pengen dapat view kota Stuttgart dan sekelilingnya. Kita perlu sekitar 30 menit dengan mobil dari kota Stuttgart, dan, 1 jam jalan kaki menuju bukit tersebut. Jalannya lumayan buat ngos-ngosan, siap-siap bawa air. Namanya gunung, gimana juga ngeluh jalannya harus mendaki. haha. Cuaca yang cerah membuat orang-orang juga memadati tempat tersebut, restoran kastil itu penuh, dan, kita harus terpaksa makan siang setelah kunjungan, dalam arti cari makanan di tempat lain.

[(bayangan) Menara Kastil dan kota Stuttgart]

.

[Dari tempat tertinggi Stuttgart 343 m]

Setelah kunjungan ke kastil, makan siang, kami meneruskan kunjungan ke proyek. Saya minta akses khusus melihat proyek tunnel yang sedang berjalan. Tidak mudah, tentu saja. Tapi bersyukur dapat kesempatan itu. Tidak hanya melihat bagaimana laboratorium mereka yang super modern itu, tapi, saya juga berkesempatan melihat alat-alat berat yang beroperasi di lapangan, dan, tentunya melihat konstruksi tunnel yang sedang dikerjakan.

.

Cuma satu kata, wow!

[Bagian dari Kunjungan]

.

Oh ya, project manager dari proyek tunnel kemarin adalah orang Stuttgart, ketika kita ngobrol-ngobrol, ada beberapa kosa kata dia yang lucu. Teman saya beberapa kali menyikut saya, saat itu saya nggak paham. Saya kira, karna saya bengong disikut. Setelah kami di luar, baru dia ngomong, itu Swabian dialect, kamu ngerti dia bilang apa? Haha. Dia ketawa. Baru saya tersadar sedang berada di negara bagian lain Jerman, dimana, beberapa perbedaan dialek maupun kosa kata ada.

.

Artikel aslinya saya posting di Kompasiana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s