Natal dan Krisis Eropa

Saat ibadah malam Natal, seperti hari ini 24 Desember 2012, seperti biasa, gereja akan dipenuhi oleh orang-orang, bahkan boleh dikatakan sesak oleh pengunjung. Setengah jam sebelum ibadah dimulai, kursi sudah terisi lebih dari separuh. Tidak ada white Christmas tahun ini karena dari pagi sudah turun gerimis. Namun tumpukan salju masih terlihat di beberapa tempat di sudut jalan. Kabar baiknya, karena hujan tentu saja suhu udara menjadi di atas nol derajat Celcius, jadi sedikit lebih nyaman untuk bepergian.

Misa Natal berjalan dengan hikmad, paduan suara menyanyikan lagu-lagu Natal dengan syahdu. Demikan juga kidung Natal dinyanyikan sukacita oleh semua jemaat yang hadir, mulai dari lagu Tannenbaum (pohon terang) sampai menyanyikan bersama lagu Stille Nacht (Malam Kudus) sebagai puncak perayaan Natal, dimana semua jemaat berdiri dan semua lampu dipadamkan. Hanya terang lilin serta lampu sorot saja yang dibiarkan menerangi gereja.

Perayaan Natal diselingi pembacaan ayat Alkitab dan juga drama Natal sederhana yang memerankan tentang cerita kelahiran bayi Yesus, di malam yang dingin lebih dari 2000 tahun yang lalu. Melihatnya, saya jadi teringat masa kecil, ketika atraksi Natal seperti itu adalah sesuatu yang kami tunggu-tunggu. Biasanya akan ditempatkan diakhir acara Natal (ibadah Natal sudah selesai) sehingga tidak hanya terkait kelahiran Yesus yang jadi tema atraksi Natal. Di sini, atraksi Natal ada dalam rangkaian ibadah, sehingga durasinya pun tidak begitu lama dan memang terlihat sederhana saja. Satu hal yang pasti, atraksi Natal seperti ini memerlukan ketrampilan seni peran, karena itu buat saya selalu saja menarik bahkan menyaksikan mimik pelakonnya, saya sendiri tidak pernah ikut berperan atraksi Natal sejak kecil kecuali jadi penggembira (gak bakat) :-D***Ada beberapa hal yang berbeda dari perayaan Natal dua tahun terakhir ini di Jerman, jika dibandingkan dengan 5 tahun berturut-turut sebelumnya. Mungkin terkait dengan krisis Eropa, sehingga, bukan saja dekorasi Natal dimana-mana yang cenderung terlihat minimalis atau Pasar Natal yang tidak begitu banyak kios seperti biasanya (baik di Berlin juga di Dresden). Bahkan tahun lalu perayaan Natal (akhir tahun) juga ditiadakan oleh Universitas dan tahun ini bisa dilihat kalau pohon Natal di stasiun utama Dresden yang biasanya sudah terlihat menjulang sejak advent pertama, namun tahun ini juga ditiadakan.

Saya memang tidak menanyakan secara khusus tentang alasan terkait, namun, mengurangi dana-dana untuk dekorasi ini mungkin terkait dengan krisis Eropa. Seperti hal nya di kampus, yang juga dikurangi hampir 40 % dari jumlah jam kerja yang tentu berpengaruh terhadap pendapatan.

stasiun utama Dresden (dokumentasi pribadi)
tahun lalu

Namun, jangan tanyakan tentang kesederhanaan atau urusan berhemat terhadap orang Jerman, karena, mereka memang cenderung tidak suka menunjukkan apa yang mereka miliki dan sudah dari sananya sederhana (juga hemat). Apalagi kalau ada alasan untuk berhemat, pada akhirnya itu bukan sesuatu hal yang sulit untuk mereka lakukan seperti yang terlihat dari hal sederhana ini, dalam perayaan Natal. Ya, begitulah. Semoga kebiasaan mereka ini akan membantu agar segera teratasi masalah krisis Eropa.

***

Pukul 22:00 malam ini, gereja di dekat apartemenku juga mengadakan konser musik Natal. Begitu saya mendengar lonceng gereja, walau saya juga tidak tau ada acara apa tadinya, akhirnya saya melangkahkan kaki. Rupanya ada acara konser yang tidak dipungut biaya masuk  dan hanya sedikit terkait ibadah Natal. Dan yang pasti, walau sudah jelang tengah malam, namun, gereja juga penuh.

dekorasi Natal sederhana di gereja dengan cemara aslinya

Tidak ada yang mengharuskan bahwa perayaan Natal disertai gemerlap lampu-lampu, kado-kado mahal atau kemewahan lainnya, karena Natal itu sendiri adalah kesederhanaan. Dan saya juga menyukai cara orang Timur merayakan Natal yang lebih ke arah kerohanian, dimana mereka juga memberlakukan puasa jelang Natal bahkan untuk Kristen Ortodoks mereka puasa 40 hari sebelum merayakan Natal.

***

Saya tidak ada foto ibadah malam Natal, karena ternyata saya cuma nenteng kamera tapi lupa masukin card. payah. haha.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. riatumimomor says:

    hahaaha, saya kira karena berdoa serius jadi lupa foto2 🙂 Yah, Natal kan memang bukan buat hura2 kok. Tanpa makanan enak, tanpa baju baru , tanpa asesoris, suasananya akan tetap terasa…
    Huks, puasa 40 hari menjelang Natal kayaknya saya syusyaaaah melakukannya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s