Berlin dan Malam Natal


Palungan di gereja Berliner Dom – Berlin

24 Desember 2011. Dinginnya kota Berlin terasa menggigit, menurut perkiraan cuaca hari itu, suhu di tubuh akan terasa minus enam derajat Celcius. Biasanya, suhu udara memang turun dari suhu aktual kalau ada tumpukan salju berhari-hari atau bisa juga karena angin. Demikian juga jelang malam Natal itu, dinginnya kota Berlin terasa tidak biasa bagiku. Mungkin juga karena jarang keluar lalu sesiangan saya dan seorang teman sudah berada di luar karena permintaanku.

Natal tahun lalu meninggalkan kenangan tersendiri buat saya, dimana selama dua semester terakhir, atau bisa dibilang sepanjang tahun saya cuti dari kampus karena sakit. Namun syukur, indahnya Natal masih tetap bisa saya rasakan di tahun itu.

Sebagaimana saya percaya bahwa “hati yang gembira adalah obat” dan saya merasa, sukacita Natal-lah yang membawa langkahku bisa menjelajah kota Berlin hari itu.  Bahkan, saya sempat mencicipi minuman khas Natal glühwein (anggur yang terlebih dahulu dididihkan) dengan rebusan kayu manis yang saya pilih di Pasar Natal Alexanderplatz sore harinya.

segelas glühwein di pasar Natal, dengan gelas souvenir yang kemudian saya bawa pulang

Jauh dari keluarga di malam Natal rasanya tentu saja tidak menyenangkan, apalagi dalam kondisi sakit. Dan malam Natal itu, benar-benar malam perenungan buat saya. Tidak ada keluarga, juga tidak berkumpul dengan teman-teman Indonesia lainnya. Ya, saya memang tidak berani menjanjikan bisa ikut berkumpul dengan teman lainnya  karena kondisi yang tidak stabil.

Ibadah kedua pukul 06:00 sore di Berliner Dom, gereja Protestan terbesar di Jerman, menjadi pilihan kami di malam Natal itu. Rasa sedih sempat meluruh ketika mengumandangkan kidung-kidung Natal, walau satu hal yang pasti, saya sangat bersyukur bisa merayakan Natal. Kesedihan hati semakin tidak bisa tertanggungkan mengingat Ibu di kejauhan sana yang khawatir dengan keadaanku dan juga mengingat indahnya kebersamaan merayakan Natal dengan keluarga. Namun kotbah malam Natal mengingatkanku kembali bahwa Natal itu sendiri bermakna kesederhanaan dan anugerah, bukan semata pada perayaannya juga bukan tradisi serta hadiah-hadiahnya.

Seusai acara Natal di Berliner Dom dari lantai satu – 24 Desember 2011
ketika Jemaat sudah mulai pulang

sesaat setelah menyalakan lilin di dekat altar gereja

Setelah ibadah malam Natal selesai, dalam perjalanan pulang menuju Hackescher markt kami bertemu seorang pengamen di jembatan di sebelah belakang gereja Berliner Dom. Jalanan terlihat lengang, saya pun menjadi terpikir, siapakah yang ia harapkan berbagi rejeki di malam yang semakin dingin itu? Sementara masyarakat Jerman sendiri, di saat malam Natal adalah malam kebersamaan dengan keluarga dan sangat jarang terlihat orang-orang berada di luar rumah. Terlebih bagi umat Kristiani, biasanya, setelah ibadah malam Natal akan dilanjutkan dengan makan malam dan acara keluarga sampai larut malam (nanti akan saya tulis lagi tentang tradisi keluarga Jerman saat Natalan).

Hal ini bisa dilihat, menjelang malam Natal di Berlin, pada tanggal 24 Desember, sebagian aktivitas sudah berakhir menjelang tengah hari, walau ada juga yang sampai pukul 03:00-04:00 sore. Namun bisa dirasakan, kota Berlin menjadi sepi di malam Natal, nyaris serupa kota mati. Hanya di tempat-tempat umum yang masih terlihat satu-dua orang. Dan satu lagi, jangan berharap ada restoran yang buka di malam Natal selain Mc. donald dan sejenisnya karena tutup.

Pengamen di belakang gereja Berliner Dom – background tv tower Berlin

Pemandangan stasiun Alexanderplatz lengang, di bawah pukul 09:00 malam, hanya ditemui saat malam Natal.
dan juga kereta di Berlin yang penumpangnya bisa dihitung jari, dibawah pukul 09:00 malam, hanya ada saat malam Natal.

Bagi mahasiswa di Jerman, yang tinggal tanpa sanak saudara, berbagi kasih dan sukacita dengan merayakan Natal bersama teman-teman memang menjadi pilihan. Beberapa tahun terakhir ini, kami biasanya masak makanan Indonesia di malam Natal, terkadang kita juga mengundang teman dari negara lain yang tidak pulang untuk libur Natalan.

Natal tanpa keluarga? Jangan sedih lama-lama, karena Natal pada dasarnya adalah bagaimana hati menerima pesan damai dari Natal itu sendiri untuk kemudian siap membagikannya kepada sekeliling, dengan menulis di Kompasiana, misalnya.

Apa yang Anda bayangkan dengan pengamen yang kedinginan demi mencari sesuap nasi (atau sepotong roti) di malam Natal? Rasanya mungkin tidak jauh beda ketika merayakan Natal sendirian, bahkan, rasanya bisa lebih tidak menyenangkan. Ya, takaran kebahagiaan setiap orang memang berbeda.

Lantas, apa ukuran kebahagiaan? Hanya hati yang tau bersyukur bisa menjawabnya.

***

Berhubung malam Natal tahun ini belum lewat, maka saya bercerita tentang malam Natal tahun lalu 🙂

1356646530251046326

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s