23 tahun Peringatan Runtuhnya Tembok Berlin

Pagi ini, langit Berlin terlihat abu-abu. Matahari seolah enggan memancarkan sinarnya. Namun, kesibukan ibu kota negara Jerman ini seolah tidak pernah tertangguhkan oleh cuaca. Seperti juga hari ini, ketika suara kereta sudah mendesing sejak subuh dan rombongan para wisatawan sudah terlihat memadati kawasan-kawasan tertentu sejak pagi. Syukurnya, jelang siang, cuaca terasa membaik dan lebih hangat.
Peringatan runtuhnya tembok Berlin, yang jatuh pada tanggal 09 November setiap tahunnya, menjadi salah satu momen bersejarah buat masyarakat Jerman. Dan hari ini adalah peringatan yang ke-23 tahun sejak tembok pemisah Jerman Timur dan Jerman Barat itu diruntuhkan. Bukan waktu yang singkat hingga momen itu datang, perlu lebih dari 3 dekade sejak tembok itu berdiri hingga runtuh 9 November 1989 silam.
(Bendera Jerman bersatu. Lokasi: di depan gedung parlemen Jerman)
(Parlemen Jerman di bulan November)
Pada hari peringatan seperti ini, baik masyarakat Jerman juga para wisatawan biasanya akan terlihat memadati Berlin. Terutama di daerah Reichstag (gedung parlemen Jerman), Brandenburger Tor (dulu menjadi gerbang utama untuk masuk ke Berlin, kemudian menjadi tempat utama demonstrasi ketika perbatasan diminta untuk dibuka-mengawali runtuhnya Tembok Berlin), juga disekitar Ostbahnhof (tempat dimana sisa tembok Berlin masih tegak berdiri).
Bahkan untuk tahun ini, beberapa kegiatan besar sengaja diadakan di Berlin sebelum dan sampai hari H peringatan tersebut, termasuk; seminar yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi peneliti terbesar di Eropa-Frauenhofer, pembahasannya terkait dengan runtuhnya tembok berlin, dan juga konfrensi tentang Jerman sebagai multi-kultur, dimana Kedutaan Besar Republik Indonesia juga terlibat di dalamnya.
***
Pagi hari itu, tanggal 13 Agustus 1961, saat masyakat kota Berlin terbangun, mereka mendapati bahwa kota itu telah berubah. Perubahan itu tidak lain dengan kehadiran tembok beton yang menjulang di tengah kota, memisahkan Jerman Timur dan Barat. Keadaan itu berawal dari banyaknya masyarakat Jerman Timur yang pindah ke bagian Barat karena pengaruh komunis dan juga karena kehidupan yang lebih baik di Barat, kemudian oleh Jerman Timur tembok itu dibangun untuk menghentikan hal tersebut.
Nyatanya, keinginan untuk ke Jerman Barat tetap menjadi impian banyak masyarakat Jerman Timur saat itu, kemudian mereka mencari jalan dengan melarikan diri. Sementara kondisi lainnya, masyarakat Jerman Barat yang keluarga dan temannya masih tertinggal di Jerman Timur pada masa itu, mereka juga berusaha menolong untuk bisa menyeberang.
Tercatat banyak orang yang tidak berhasil dalam usaha melarikan diri selama tembok itu berdiri, lalu kemudian tertembak. Namun sebaliknya, ada banyak warga Jerman Timur yang juga berhasil melarikan diri. Berbagai cara yang berhasil dilakukan saat itu; mulai dari bantuan tentara Amerika di perbatasan di Friedrichstrasse, meminjam seragam tentara Amerika untuk dipakaikan kepada orang yang ingin melarikan diri atau bahkan lewat bantuan kunjungan kedutaan. Biasanya cara terakhir ini akan lebih aman namun juga sangat mahal, dimana mereka akan ditempatkan di bagasi mobil kedutaan tersebut.
(hanya sebuah peringatan buat mereka yang tertembak ketika menyeberang)
(rekaman cara meloloskan diri dari Jerman Timur ke Barat)
(Beberapa rekaman catatan bantuan untuk melarikan diri saat itu)
Pada masa itu, yang dikenal dengan era perang dingin, ada tiga cara untuk mencapai Berlin: Checkpoint A (Alpha) dekat Helmstedt, Checkpoint B (Bravo) dekat Dreilinden, dan Checkpoint C (Charlie) di Friedichstrasse: penyeberangan dari Jerman Timur ke Jerman Barat. Checkpoint Charlie inilah yang paling Dari catatan sejarah yang ada, didapati hampir 400 warga Jerman Timur yang berhasil lolos sepanjang tembok itu berdiri memisahkan kedua bagian wilayah Jerman. Tentara Amerika, Harold E. Schwarz dan temannya, adalah pihak-pihak yang termasuk berperan menyukseskan cetakan angka itu.
(map yang menunjukkan tempat dimana tembok berdiri dan juga pemeriksaan. Sumber: wikipedia)
(kondisi perbatasan, terlihat Checkpoint Charlie di ujung jalan)
(Checkpoint Charlie dimasa itu (terlihat lebih dekat) )
Runtuhnya Tembok Berlin menjadi simbol bersatunya kembali Jerman. Sekaligus menjadi simbol berakhirnya perang dingin dan pengaruh komunis di Jerman. Hanya dalam waktu 23 tahun, kini Berlin terlihat bermetamorfosa dengan luar biasa, bahkan seolah kejadian buruk itu tidak pernah terjadi. Satu hal yang pasti, perubahan ini terwujud karena karena masyarakat Jerman, khususnya Berlin cukup terbuka dengan perubahan, juga pemerintah yang senantiasa mendukung perubahan (ke arah baik) tersebut, tentunya. Sehingga, pahlawan-pahlawan mereka yakni orang-orang yang menginginkan Jerman bersatu itu, hasilnya terlihat dalam jelmaan prestasi dalam banyak bidang yang mereka ukir bersama-sama.
***
Beberapa kali dalam tujuh tahun terakhir saya sempatkan untuk melihat daerah pusat peringatan, Brandenburger Tor, Reichstag (gedung parlemen Jerman) dan Ostbahnhof, dan memang selalu dipadati oleh wisatawan berbeda dari biasanya. Namun, peringatan yang paling besar sepanjang waktu tersebut diadakan tahun 2009, saat itu tepat peringatan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin, di tahun 2009 (20-09), angka yang juga istimewa. Dimana pada pukul 17:00 saat itu, 1000 batu domino, serupa kepingan tembok Berlin diruntuhkan. Domino itu kemudian tersebar diberbagai tempat wisata di Berlin saat ini.
(dominostein terlihat mengelilingi Reichstag dan beberapa lokasi. Diambil dari gedung parlemen.)
Dan yang pasti, sekilas tentang tembok Berlin ini masih tetap bercerita lewat lukisan grafiti di sepanjang tembok Berlin di daerah Ostbahnhof. Yang tahun 2009 lalu baru selesai di renovasi ulang grafitinya.
(tembok Berlin)
(salah satu grafiti di tembok berlin)

(salah satu pesan dalam grafiti, yang kemudian dicoret-coret pengunjung)

Sementara Berlin sudah bermetamorfosa pasca runtuhnya tembok Berlin, kemudian yang jadi pertanyaan, apa yang telah kita lakukan melanjuti perjuangan para pahlawan kita? Aku jadi terpikir, koq bisa ya Hari Pahlawan kita berdekatan dengan peringatan runtuhnya Tembok Berlin. Ya, semoga saja kita tertular bagaimana masyarakat Jerman merealisasikan sebuah cita-cita dalam tindakan nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s