Mengenal Tandem Bahasa Asing di Kampus Jerman

13481282821403867023
sepeda tandem di Monas (Sumber:http://infopublik.kominfo.go.id)
Tandem adalah istilah yang biasanya digunakan untuk pasangan bersepeda, dimana sepeda tersebut dikendarai oleh dua orang sekaligus secara bersama-sama. Di kebun binatang Ragunan atau saat berwisata di Monas, tandem sepeda bisa didapati. Di Jerman, kita juga menyebut tandem untuk orang yang ingin belajar bahasa asing dengan sistem saling bertukar, istilahnya disebut Sprachtandem. 

Program ini sangat bermanfaat untuk mahasiswa yang ingin memperlancar bahasa asing, biasanya mereka akan berusaha mencari tandem dari penutur asli bahasa yang ingin dipelajari, walau tidak mutlak. Namun, mengingat lingkungan kampus selalu disertai oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara, mencari tandem penutur asli adalah mungkin untuk dilakukan. 
 
Prinsipnya, kita akan mendaftarkan bahasa yang kita kuasai serta bahasa yang ingin kita pelajari lewat perwakilan kampus. Lalu, kampus akan menghubungkan kita dengan pelamar. Semisal, waktu baru pertama datang ke Jerman, saya mencari tandem yang berbahasa Jerman, namun tidak mensyaratkan harus penutur asli. Balasannya, saya menawarkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Setelah mendaftar beberapa minggu, barulah saya dihubungi oleh universitas. 
 
Yang membuat saya senang saat itu, ternyata bukan hanya mahasiswa Jerman yang tertarik menjadi tandem, tapi ada juga mahasiswa dari Italia, Spanyol, Afrika dan Rusia. Satu hal yang saya perhatikan, ternyata kami bisa lebih menikmati dan nyaman belajar bahasa dengan tandem bila dibandingkan dengan kursus. Disamping karena program ini tidak berbayar, mungkin juga karena semata-mata bertujuan untuk bisa sama-sama belajar. Jadi, tidak ada tekanan. Kita tidak terikat dengan waktu, konsep dan tempat belajar. Bahkan, terkadang kami belajar di ruangan kosong di kampus, janjian di perpustakaan dan tidak jarang belajar di rumah teman tandem secara bergantian.
 
Walau pada awalnya mereka meminta jadi tandem bahasa Inggris, namun, setelah berjalan beberapa minggu, keakraban yang mulai terjalin membawa kami untuk saling belajar bahasa ibu masing-masing. Yang pasti, untuk saya pribadi, ada sensasi lain ketika mendengar mereka mengucapkan kata atau sapaan dalam bahasa Indonesia. Demikian juga saat mereka terkadang mengulang beberapa kali mengucapkan satu kalimat, untuk memperbaiki pengucapan saya.
 
„Selamat siang! Saya sudah makan siang.“ ucap teman saya yang dari Spanyol, dengan logat latinnya yang kental. Dia memang suka makan, jadi yang paling dia hafal adalah barisan kalimat ini. Dan terkadang, ketika kita sama-sama berdiri di bus saja, walau itu masih pagi hari, dia tidak enggan mengucapkannya. Kalimat pertama masih diucapkan dengan baik, namun kalimat kedua intonasinya sudah terdengar lucu. Ya, lucu, tepatnya seksi didengar, seperti juga kata mereka.
 
„Coba bilang me-nya-nyi, Markus!“ ajak saya kepada seorang teman Jerman. Dia yang selalu tergelincir setiap membaca kalimat yang disatukan dengan „ng“ dan „ny“ membuat telinga saya tergelitik mendengar dia mengeja kata yang digabungkan dengan „ng“ dan „ny“. Kata dia, seperti halnya saya membaca „a, u dan o umlaut“ dalam bahasa Jerman: ä, ü, dan ö juga terdengar lucu.
Jadi, ketika Markus mengeja „me-nya-nyi“ akan terdengar seperti „men-jan-ji“
 
Selain itu, beberapa kali teman dari Rusia juga mendengar saya berbicara lewat telepon dengan teman Indonesia, dia kemudian mengatakan bahwa ada beberapa kata yang saya gunakan seperti kata dalam bahasa Rusia, hanya, pada akhirnya saya mengetahui ternyata artinya berbeda.
 
Ya, belajar dengan tandem tidak hanya memantapkan bahasa asing yang ingin kita perdalam, namun juga meninggalkan persahabatan, serta rasa senang saat menikmati pengucapan-pengucapan yang terdengar lucu dari berbagai dialek bangsa. Dan pada akhirnya, kami juga saling belajar tentang budaya dan kuliner. Tidak jarang, saya meminta teman tandem untuk mengajari saya cara memasak masakan mereka dan juga sebaliknya.
 
Tandem memang banyak diminati. Pada saat saya tinggal di Berlin, saya baru mengetahui dari teman satu asrama yang kuliah di Universitas Humboldt bahwa mahasiswa Regional Studies Humboldt University Berlin diwajibkan untuk mempelajari salah satu bahasa dari kawasan Asia Tenggara. Menarik bukan? Program kampus ini semakin membuka peluang bahwa mahasiswa Jerman sendiri akan mencari tandem bahasa Indonesia di Berlin, setidaknya, mahasiswa Indonesia tidak akan kesulitan mencari tandem Jerman.
Tidak hanya kampus yang memfasilitasi tandem di Jerman, ternyata ada banyak website yang bisa menghubungkan kita dengan tandem. Mulai dari yang berbayar sampai tidak berbayar, semisalwww.erstenachhilfe.de.
Pada akhirnya, dibelahan dunia manapun kita berada, kuliah atau bekerja, mari memperkenalkan bahasa, budaya dan kuliner Indonesia dengan senang dan bangga. Apalagi kondisi itu didukung oleh tempat kita menimba ilmu atau bekerja.
134812842039481621
Kalo kita habis belajar biasanya begini. Sesaat akan makan makanan Indonesia dengan teman tandem. Desember 2006 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s